Ticker

7/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pasang Iklan? Hubungi 085344204480



Jalan Salib “Kasih yang Sempurna” Menggetarkan Namrole: Menghidupkan Iman, Menyatukan Umat dalam Makna Pengorbanan Kristus

Namrole – Dalam balutan dini hari yang hening, Kota Namrole, Kabupaten Buru Selatan, berubah menjadi ruang perenungan yang sarat makna. Ratusan umat Kristiani larut dalam ketegangan rohani saat mengikuti prosesi Jalan Salib bertajuk “Kasih yang Sempurna”, Minggu (5/4/2026) dini hari, sebuah momentum Paskah oikumene yang bukan hanya menyentuh emosi, tetapi juga menggugah kesadaran iman yang terdalam.

Kegiatan ini mempertemukan berbagai denominasi gereja: Gereja Protestan Maluku (GPM) Labuang, Gereja Pantekosta Anugerah Labuang, Gereja Bala Keselamatan Labuang, Paroki Masnana, serta Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) Labuang. Dalam kebersamaan yang harmonis, sekat perbedaan seakan luluh, digantikan oleh semangat persatuan dalam kasih Kristus yang hidup dan nyata.

Prosesi sakral sepanjang kurang lebih tiga kilometer itu menghadirkan kembali jejak penderitaan Yesus Kristus di Via Dolorosa. Setiap adegan yang diperagakan bukan sekadar pertunjukan teatrikal, melainkan perwujudan iman yang mendalam mengajak umat untuk tidak hanya menyaksikan, tetapi turut merasakan luka, pengorbanan, dan kasih yang tak terbatas.

Sorotan utama tertuju pada sosok Dino Lesnussa yang memerankan Yesus. Dengan langkah tertatih memikul salib, raut wajah penuh penderitaan, hingga jatuh berulang kali di sepanjang jalan, ia berhasil menghidupkan suasana yang begitu nyata. Setiap gerak dan ekspresi menghadirkan keheningan yang menyayat hati, membuat banyak umat tak kuasa menahan haru.

“Ini bukan karena kami hebat, tetapi karena Tuhan Yesus berkarya melalui kami. Saya hanya berusaha menyerahkan diri sepenuhnya agar kehendak-Nya dinyatakan,” ungkap Dino dengan penuh kerendahan hati.

Ketegangan semakin terasa dalam adegan pengadilan Yesus. Sosok Pilatus yang diperankan Erik Mailoa tampil kuat menggambarkan pergulatan batin antara kebenaran dan tekanan massa. Sorakan saksi-saksi dusta dan desakan rakyat menjadi gambaran nyata betapa kebenaran sering kali dikalahkan oleh kepentingan dan tekanan sosial sebuah refleksi yang tetap relevan hingga kini.

Di tengah kerasnya cambukan algojo, kehadiran Maria yang diperankan Hilda Tasane menghadirkan nuansa duka yang mendalam. Tangisnya bukan sekadar akting, tetapi simbol kepedihan seorang ibu yang menyaksikan penderitaan anaknya. Momen ini menjadi salah satu titik paling emosional, menggugah empati dan keheningan dari seluruh umat yang hadir.

Puncak prosesi berlangsung di lapangan alun-alun tribun Kota Namrole saat adegan penyaliban. Dalam suasana yang mendadak sunyi, perhatian ratusan pasang mata tertuju pada satu titik: tubuh Yesus yang diangkat ke kayu salib. Isak tangis pecah, menciptakan pengalaman spiritual yang kuat sebuah perjumpaan batin dengan makna pengorbanan yang sejati.

Koordinator Via Dolorosa, Andre Solissa, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar tradisi, melainkan panggilan iman.

“Ini bukan cerita fiktif, tetapi kisah nyata yang harus terus disampaikan. Harapannya, umat tidak hanya menonton, tetapi benar-benar merasakan dan menghidupinya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa setiap adegan adalah simbol dari pengorbanan Kristus yang menanggung dosa manusia, sebuah wujud “Kasih yang Sempurna” yang harus diwariskan lintas generasi.

Keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari kerja keras panitia HBGN Jemaat GPM Labuang di bawah komando Erik Tanalepy, serta dukungan penuh dari para pimpinan gereja dan pemeran adegan Via Dolorosa. Ketua AMGPM Ranting Muan Modan sekaligus Ketua Seksi Acara, Mario Solissa, mengungkapkan bahwa seluruh pemeran hanya memiliki waktu kurang dari satu bulan untuk berlatih, dengan sekitar 30 orang terlibat langsung dalam adegan penyaliban.

“Kami berupaya memberikan yang terbaik, bukan untuk kemuliaan manusia, tetapi semata-mata untuk memuliakan Tuhan,” katanya.

Lebih dari sekadar refleksi iman, Paskah oikumene ini menjadi simbol kuat persatuan umat. Ketua Klasis GPM Buru Selatan, Pdt. Wen Lesbassa, menilai kegiatan ini mampu meruntuhkan sekat antar gereja dan mempererat kebersamaan dalam kasih Kristus.

Apresiasi juga datang dari Bupati Buru Selatan, La Hamidi, yang berharap momentum Paskah ini membawa damai, harapan baru, serta menjaga stabilitas daerah tetap aman dan kondusif. 

Lebih dari sekadar tradisi tahunan, Jalan Salib “Kasih yang Sempurna” menjelma menjadi panggilan spiritual bagi setiap umat: untuk kembali merenungkan arti pengorbanan, menghidupi kasih tanpa syarat, dan meneladani Kristus dalam setiap langkah kehidupan.

Di tengah dunia yang terus diliputi tantangan dan perpecahan, pesan salib tetap abadi bahwa kasih sejati adalah kasih yang rela berkorban, bahkan sampai menyerahkan nyawa demi keselamatan sesama. 

Turut hadir dalam kegiatan Paskah tersebut, Wakil Bupati Bursel, Gerson Eliaser Selsily, Sekda Prof. Ali Awan, pimpinan OPD, serta tamu undangan lainnya. (KT/03) 

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments