Ticker

7/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pasang Iklan? Hubungi 085344204480


28 Tahun Reformasi, Buku Kampus Pergerakan Diluncurkan: Heroe Waskito Soroti Penegakan Hukum

Jakarta – Bertepatan dengan peringatan 28 tahun tumbangnya rezim Orde Baru, sebuah buku sejarah kolektif tentang perjalanan gerakan mahasiswa resmi diluncurkan di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis (21/05/2026).

Buku berjudul Kampus Pergerakan: Dinamika Perjuangan Mahasiswa Universitas Janabadra 1986–2026 menjadi salah satu catatan tertulis yang merekam dinamika gerakan mahasiswa dari perspektif langsung para aktivis yang terlibat di dalamnya.

Peluncuran buku tersebut tidak hanya menjadi momentum mengenang perjalanan Reformasi 1998, tetapi juga mengingatkan bahwa perubahan besar yang terjadi saat itu lahir dari proses panjang yang penuh dinamika, tekanan, dan perjuangan.

“Buku ini menjelaskan bahwa gerakan yang berujung pada jatuhnya Soeharto pada 21 Mei 1998 bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Itu adalah perjalanan panjang dari tahun-tahun sebelumnya, mulai dari kegelisahan, konsolidasi, aksi, penangkapan, hingga tekanan terhadap gerakan mahasiswa di kampus-kampus seluruh Indonesia,” ungkap Heroe Waskito, aktivis yang telah terlibat dalam gerakan mahasiswa sejak 1986.

Heroe yang kini menjabat Ketua Umum Pergerakan Advokat menjelaskan, buku tersebut disusun dari sudut pandang aktivis mahasiswa Universitas Janabadra (UJB) melalui proses kolektif yang cukup panjang dan ketat.

Kesaksian para aktivis lintas generasi dikumpulkan melalui berbagai forum diskusi, termasuk grup komunikasi alumni, kemudian diverifikasi menggunakan dokumen internal gerakan, kliping media pada masa itu, hingga laporan berbagai lembaga nasional dan internasional.

Menurut Heroe, Reformasi hingga kini belum sepenuhnya selesai. Ia menilai masih ada persoalan mendasar yang membutuhkan perhatian serius, terutama dalam aspek penegakan hukum.

“Dua puluh delapan tahun setelah Reformasi, penegakan hukum harus menjadi fokus nyata. Inilah akar persoalan yang sampai hari ini belum terselesaikan,” tegasnya.

Buku setebal lebih dari 300 halaman itu juga merekam berbagai bentuk keterlibatan mahasiswa dalam mendampingi masyarakat. Salah satu aktivis era 1980-an, Heru Sahararita, menceritakan kiprah mahasiswa dalam melakukan advokasi terhadap berbagai persoalan rakyat, mulai dari kasus Kedung Ombo, persoalan di Cilacap, hingga pendampingan masyarakat di sejumlah kampung di Yogyakarta.

Sementara itu, aktivis angkatan 1998 yang kini dikenal sebagai advokat sekaligus pakar kecerdasan buatan (AI), Eko Prastowo, menjelaskan bahwa buku tersebut dikemas dengan pendekatan naratif historis agar mudah dipahami pembaca.

“Buku ini juga memotret kehidupan masyarakat pada masa itu. Sebab mahasiswa dan kampus tidak pernah terpisah dari realitas sosial di sekitarnya. Cerita di jalanan saat aksi, hubungan dengan masyarakat sekitar, hingga pengalaman-pengalaman unik para aktivis juga ikut direkam,” ujarnya.

Buku Kampus Pergerakan diterbitkan oleh komunitas alumni UJB yang tergabung dalam Janabadra Club. Hampir seratus aktivis dari berbagai generasi turut berkontribusi dalam proses penyusunannya, mulai dari aktivis senior hingga mahasiswa yang saat ini masih aktif berkuliah. (W) 

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments