Ticker

7/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pasang Iklan? Hubungi 085344204480




Semarak HUT ke-91 GPM, Jemaat Labuang Gaungkan Gerakan Peduli Sampah: Iman Diperkuat, Lingkungan Dirawat

NAMROLE – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-91 Gereja Protestan Maluku (GPM) di Jemaat GPM Labuang, Klasis Buru Selatan, tidak sekadar menjadi momentum perayaan iman dan ungkapan syukur. Di balik semarak perayaan tersebut, terselip pesan kuat tentang pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.

Semangat itu diwujudkan Panitia Hari-Hari Besar Gereja dan Nasional (HBGN) Jemaat GPM Labuang melalui sosialisasi pengelolaan sampah yang menggandeng Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Buru Selatan.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Gereja Waefuhan Prangit, Jemaat GPM Labuang, Rabu (2/9/2026), tersebut diikuti warga dari 15 unit pelayanan Jemaat GPM Labuang.

Hadir sebagai pemateri, Kepala Seksi Penyuluhan Kesmas Bidang Lingkungan Hidup Dinas LH Kabupaten Buru Selatan, Jati Pattilouw, didampingi Kepala Bidang Persampahan dan B3, Nur Aida Loilatu.

Dalam pemaparannya, Pattilouw menegaskan bahwa persoalan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun petugas kebersihan, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat.

Menurutnya, perubahan perilaku dalam mengelola sampah harus dimulai dari lingkungan paling kecil, yakni rumah tangga.

“Pengelolaan sampah harus dilakukan dengan baik dan benar. Jangan melihat sampah hanya sebagai sesuatu yang sudah tidak berguna, karena sebagian sampah masih memiliki nilai dan dapat dimanfaatkan kembali,” jelasnya.

Ia mengajak warga jemaat untuk terlebih dahulu mengenali jenis sampah sebelum menentukan metode pengelolaannya.

Secara umum, sampah dapat dikelompokkan menjadi sampah organik, anorganik, dan sampah khusus.

Sampah organik seperti sisa makanan, kulit buah, sayuran, rumput dan bahan alami lainnya dapat diolah menjadi pupuk kompos. Selain mengurangi volume sampah, pengolahan tersebut juga memberikan manfaat bagi lingkungan dan dapat dimanfaatkan untuk tanaman maupun kebun di sekitar rumah.

Sementara sampah anorganik seperti plastik, kardus, kaleng dan kaca dapat dipilah untuk didaur ulang atau diolah menjadi berbagai produk bernilai guna, termasuk kerajinan tangan dan media penghijauan.

“Jangan semua sampah dianggap tidak berguna. Dengan kreativitas, sampah anorganik dapat diolah menjadi barang yang bermanfaat, bahkan memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.

Sedangkan sampah khusus seperti baterai, lampu dan barang tertentu yang mengandung bahan berbahaya, lanjut Pattilouw, membutuhkan penanganan khusus dan tidak boleh dibuang sembarangan bersama sampah rumah tangga.

Jangan Buang Sampah ke Sungai

Dalam kesempatan tersebut, Pattilouw juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai, saluran air maupun tempat-tempat yang tidak semestinya.

Kebiasaan membuang sampah sembarangan dapat memicu berbagai persoalan lingkungan, mulai dari pencemaran, tersumbatnya saluran air hingga meningkatkan risiko banjir.

Ia juga mengingatkan warga untuk tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan karena dapat menimbulkan polusi udara dan berpotensi memicu kebakaran.

“Pembakaran sampah secara terbuka dapat menimbulkan polusi udara dan berpotensi memicu kebakaran. Karena itu, pengelolaan sampah harus dilakukan dengan cara yang aman dan bertanggung jawab,” tegasnya.

Lebih jauh, Pattilouw mendorong agar kepedulian terhadap kebersihan lingkungan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi.

Menurutnya, kebiasaan memilah dan mengelola sampah harus ditanamkan sejak dini kepada anak-anak, baik di lingkungan keluarga, sekolah, gereja maupun masyarakat.

“Kalau kebiasaan menjaga lingkungan ditanamkan sejak anak-anak, maka mereka akan tumbuh menjadi generasi yang memiliki kesadaran dan tanggung jawab terhadap kebersihan lingkungannya,” katanya.

Dari Sosialisasi Berlanjut Menjadi Aksi

Menariknya, kegiatan tersebut tidak berhenti pada penyampaian materi. Panitia HBGN Jemaat GPM Labuang juga mendorong warga untuk menerjemahkan pengetahuan tersebut ke dalam praktik nyata.

Warga jemaat akan diajak mengolah sampah menjadi berbagai bentuk kerajinan maupun produk yang memiliki nilai manfaat. Hasil kreativitas tersebut nantinya akan dinilai oleh tim juri yang ditunjuk Panitia HBGN sebagai bagian dari rangkaian kegiatan menyemarakkan HUT ke-91 GPM.

Langkah tersebut menjadi bukti bahwa perayaan HUT GPM tidak hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga berupaya meninggalkan pesan, kesadaran dan karya yang bermanfaat bagi kehidupan bersama.

Semangat menjaga lingkungan kemudian diperkuat melalui komitmen bersama, yang ditandai dengan penandatanganan pernyataan tanggung jawab bersama dalam pengelolaan sampah di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Komitmen tersebut menjadi simbol bahwa menjaga kebersihan bukan sekadar kewajiban pemerintah atau petugas kebersihan, melainkan panggilan bersama seluruh warga untuk merawat lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab kepada sesama dan ciptaan Tuhan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Majelis Jemaat GPM Labuang, Pdt. Ine Apono/Singkery, para perangkat pelayan, serta warga masyarakat dari 15 unit pelayanan Jemaat GPM Labuang.

Melalui kegiatan tersebut, Jemaat GPM Labuang memperlihatkan bahwa semangat menyambut HUT ke-91 GPM dapat diwujudkan melalui tindakan nyata: memperkuat iman, membangun kepedulian, merawat lingkungan dan menanamkan tanggung jawab bersama demi kehidupan yang lebih bersih, sehat dan berkelanjutan.

(AL)

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments