Ticker

7/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pasang Iklan? Hubungi 085344204480



Haidar Alwi: Polri Presisi Menjaga Ramadhan, Mengawal Mudik, Menguatkan Rasa Aman Lebaran

Jakarta - Ramadhan tahun ini tidak hanya menghadirkan suasana ibadah, tetapi juga pergerakan besar manusia yang sedang berlangsung di seluruh Indonesia. Mudik Lebaran 1447 H atau 2026 bukan peristiwa yang telah selesai dinilai, melainkan proses yang sedang berjalan dan sedang diuji langsung di lapangan. Jutaan masyarakat mulai bergerak, jalan mulai padat, dan sistem negara mulai bekerja dalam tekanan yang nyata. Dalam situasi seperti ini, rasa aman yang dirasakan masyarakat tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang muncul dengan sendirinya.

Pembacaan yang utuh menjadi penting agar masyarakat tidak hanya menikmati hasil, tetapi juga memahami proses di baliknya. Dalam konteks inilah Ir. R. Haidar Alwi, MT - Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, serta Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, menegaskan bahwa kelancaran mudik yang mulai dirasakan hari ini adalah hasil dari kerja sistem Polri yang telah disiapkan jauh sebelum arus kendaraan meningkat.

“Banyak orang melihat mudik dari kaca depan kendaraan, padahal Polri melihatnya dari peta besar pergerakan manusia. Mereka bekerja sebelum kita berangkat, saat kita di jalan, dan bahkan saat kita belum menyadari potensi masalahnya,” tegas Haidar Alwi.

Penegasan ini penting, karena selama ini publik sering kali hanya melihat Polri saat berada di jalan raya. Padahal, inti kerja Polri justru dimulai dari perencanaan, prediksi, dan pengendalian situasi sejak jauh hari sebelum momentum mudik terjadi.

Mudik yang Sedang Berlangsung dan Ujian Nyata Negara.

Mudik Lebaran bukanlah peristiwa sederhana. Ia adalah ujian nyata kapasitas negara dalam mengelola pergerakan puluhan juta rakyat dalam waktu yang hampir bersamaan. Pada tahun 2026, Polri mengerahkan lebih dari 161 ribu personel gabungan dan mendirikan ribuan pos pengamanan serta pelayanan. Semua itu kini sedang bekerja, bukan dalam teori, tetapi dalam realitas di lapangan.

“Negara diuji bukan saat situasi tenang, tetapi saat tekanan memuncak. Mudik adalah momen ketika sistem benar-benar diuji. Jika tetap terkendali, itu berarti negara hadir dengan cara yang nyata, bukan sekadar simbol,” ujar Haidar Alwi.

Saat ini, arus mudik masih bergerak menuju puncaknya. Kepadatan mulai meningkat, rekayasa lalu lintas mulai diberlakukan, dan personel di lapangan bekerja tanpa henti. Di sinilah publik perlu memahami bahwa kelancaran yang dirasakan hari ini adalah bagian dari proses yang sedang dijaga secara terus-menerus.

Polri Presisi: Bekerja Sebelum Masalah Terjadi.

Pendekatan Presisi yang dijalankan Polri terlihat nyata dalam mudik tahun ini. Polri tidak menunggu kemacetan terjadi, tetapi memprediksi kapan dan di mana potensi kepadatan akan muncul. Puncak arus diperkirakan terjadi pada H-3, dan skema rekayasa lalu lintas seperti one way dan contraflow telah disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan tersebut.

“Polri hari ini tidak lagi sekadar hadir setelah masalah muncul. Mereka bekerja untuk memastikan masalah itu tidak sempat menjadi krisis. Ini perubahan cara kerja yang tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat,” kata Haidar Alwi.

Selain itu, layanan seperti call center 110, pos pelayanan terpadu, hingga program Mudik Gratis Presisi menjadi bagian dari pendekatan yang lebih luas. Ini menunjukkan bahwa Polri tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga mengelola pergerakan masyarakat agar tetap dalam kendali.

Di titik ini, masyarakat perlu memahami bahwa setiap pengaturan arus lalu lintas bukanlah pembatasan, melainkan bentuk perlindungan. Setiap pengalihan jalan, setiap penyesuaian jalur, adalah bagian dari upaya menjaga keselamatan bersama.

Kepemimpinan, Polri, dan Kesadaran Masyarakat.

Keberhasilan yang mulai terlihat ini juga tidak lepas dari kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang memastikan kesiapan sistem berjalan secara menyeluruh. Namun Haidar Alwi menekankan bahwa keberhasilan ini tidak hanya bergantung pada aparat, tetapi juga pada kesadaran masyarakat.

“Polri bisa merancang sistem terbaik, tetapi tanpa kedisiplinan masyarakat, sistem itu tidak akan bekerja maksimal. Keamanan adalah hasil dari kerja bersama, bukan kerja satu pihak,” tegas Haidar Alwi.

Sebagai pencetus Gerakan Nasional Rakyat Bantu Rakyat, Haidar Alwi melihat bahwa mudik yang aman adalah hasil dari pertemuan antara kerja negara dan kesadaran rakyat. Ketika masyarakat mulai memahami bagaimana Polri bekerja, maka kepercayaan akan tumbuh, dan ketertiban akan menjadi bagian dari budaya bersama.

“Polri telah menunjukkan bahwa mereka bekerja bukan hanya di permukaan, tetapi di dalam sistem yang mengatur kehidupan bersama. Sekarang saatnya masyarakat tidak hanya merasakan, tetapi juga memahami dan menghargai kerja tersebut. Karena rasa aman bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari kerja yang terus dijaga setiap saat,” pungkas Haidar Alwi.

(Nanang) 

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments