Koreksi Timur – Jaringan listrik milik PT PLN (Persero) yang kini telah menjangkau hampir seluruh pelosok negeri memberikan kemudahan besar bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan energi listrik sehari-hari. Didukung berbagai inovasi teknologi, baik perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software), layanan kelistrikan PLN dinilai semakin modern. Namun demikian, aspek keamanan instalasi listrik di rumah tangga tetap perlu mendapat perhatian serius.
Salah satu inovasi yang mendapat apresiasi luas dari masyarakat adalah peralihan dari sistem listrik pascabayar ke listrik prabayar. Melalui sistem prabayar, pelanggan menggunakan token listrik sebagai kuota pulsa yang diisikan ke meteran listrik di rumah masing-masing. Sistem ini dinilai lebih transparan dan memudahkan masyarakat dalam mengontrol pemakaian listrik.
Pada umumnya, rumah tangga di Indonesia menggunakan daya terpasang sebesar 900 VA atau sekitar 900 watt. Daya tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti penggunaan setrika listrik, rice cooker, serta penerangan rumah dengan beberapa titik lampu.
Namun di balik kemudahan tersebut, permasalahan kebakaran akibat korsleting listrik masih kerap terjadi di tengah masyarakat. Salah satu penyebab utamanya adalah instalasi listrik rumah yang tidak diperiksa secara berkala serta penggunaan stop kontak yang tidak sesuai dengan kapasitas beban listrik.
Untuk itu, masyarakat diimbau agar rutin melakukan pengecekan instalasi listrik di rumah, mulai dari kondisi kabel, stop kontak, hingga terminal sambungan. Pemeriksaan ini penting untuk memastikan keamanan pelanggan sekaligus mencegah potensi terjadinya arus pendek. Pengecekan dapat dilakukan melalui layanan resmi PLN atau menggunakan jasa kontraktor berlisensi (instalatir) yang terdaftar di kantor PLN setempat.
“Jangan pernah menaruh beberapa colokan alat listrik hanya pada satu titik,” ujar Endang, seorang Mechanical Engineer (ME), saat dimintai keterangan terkait seringnya kebakaran akibat korsleting listrik, Senin (29/12).
Menurutnya, penggunaan terminal sambungan secara bertumpuk akan menimbulkan beban berlebihan. Jika dipaksakan, kondisi ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan panas berlebih pada sambungan listrik.
“Apapun terminal sambungan yang digunakan, kalau bebannya berlebihan pasti akan panas. Untuk peralatan elektronik dengan daya besar, sebaiknya gunakan satu stop kontak khusus,” jelasnya.
Ia mencontohkan, kulkas sebaiknya menggunakan satu stop kontak tersendiri, demikian pula magic com dan setrika listrik. Dengan pembagian beban yang tepat, risiko kebakaran akibat korsleting listrik dapat diminimalkan.
Beban listrik yang berlebihan, lanjut Endang, dapat memicu panas pada terminal sambungan, sehingga rawan terjadi arus pendek yang berujung pada kebakaran. Karena itu, kesadaran masyarakat dalam menggunakan listrik secara aman dan sesuai standar menjadi kunci utama pencegahan.
Melalui edukasi dan kewaspadaan bersama, diharapkan kasus kebakaran akibat instalasi listrik dapat ditekan, sehingga pemanfaatan listrik di rumah tangga tetap aman, nyaman, dan berkelanjutan. (Nanang)

0 Comments