Ticker

7/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pasang Iklan? Hubungi 085344204480



Sekber Gokesu Bersama Pimpinan Gereja di Sumut Gelar Aksi Perlawanan terhadap Kejahatan Ekologis

Medan — Sekretariat Bersama Gerakan Oikumenis untuk Keadilan Ekologis Sumatera Utara (Sekber Gokesu) menggelar acara Bona Taon di Jetun Silangit, Jumat (10/1/2026). Kegiatan ini menjadi penegasan sikap gereja dan masyarakat dalam melawan kejahatan ekologis yang dinilai terus dibiarkan terjadi di Sumatera Utara.

Acara tersebut dihadiri lebih dari 1.000 peserta yang terdiri atas para pimpinan gereja di Sumatera Utara, di antaranya Ephorus HKBP, Ephorus HKI, Ephorus GKPS, serta GKPI yang diwakili oleh Sekretaris Jenderal GKPI.

Turut hadir pula perwakilan Keuskupan Agung Medan melalui Vikaris Episkopal, organisasi mahasiswa, komunitas masyarakat adat, serta berbagai organisasi masyarakat sipil.

Ketua Umum Sekber Gokesu, Pastor Walden Sitanggang, OFMCap, dalam pernyataannya menegaskan bahwa gereja tidak akan tinggal diam menyaksikan kehancuran lingkungan akibat aktivitas perusahaan-perusahaan perusak alam yang dinilai mendapat perlindungan kebijakan serta pembiaran dari negara.

Ia menilai berbagai bencana ekologis yang berulang di Sumatera Utara bukanlah takdir, melainkan konsekuensi dari kejahatan ekologis yang sistematis.

“Ini adalah akibat dari eksploitasi yang rakus dan dilindungi oleh kebijakan negara. Karena itu, Gereja berdiri bersama rakyat dan masyarakat adat untuk menghentikan segala bentuk perusakan rumah bersama kita, yakni Bumi,” tegas Pastor Walden.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa pada 27 Januari 2026, Sekber Gokesu berencana menggelar aksi damai di depan Istana Presiden Republik Indonesia. Dalam aksi tersebut, Sekber Gokesu akan menyerahkan pernyataan sikap resmi para pimpinan gereja di Sumatera Utara yang menuntut penutupan permanen operasional PT Toba Pulp Lestari (TPL).

Sebagai bagian dari komitmen pemulihan lingkungan, dalam rangkaian acara Bona Taon tersebut Sekber Gokesu juga menyerahkan ribuan bibit pohon kepada masyarakat sebagai simbol dan langkah nyata pemulihan alam yang telah rusak.

(Jul) 

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments