Ticker

7/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pasang Iklan? Hubungi 085344204480



Warga Binaan Lapas Namlea Jadikan Perpustakaan Sarana Literasi

Namlea – Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Namlea terus menunjukkan semangat dalam meningkatkan pengetahuan dan wawasan melalui kegiatan literasi. Perpustakaan Lapas kini menjadi salah satu sarana favorit warga binaan untuk mengisi waktu luang dengan membaca berbagai buku bacaan, Selasa (13/1).

Kegiatan membaca tersebut telah menjadi rutinitas harian yang terjadwal dan dilaksanakan di bawah pengawasan petugas. Upaya ini merupakan bagian dari program pembinaan yang bertujuan membentuk pribadi warga binaan yang lebih baik, berwawasan, dan produktif.

Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Namlea, Mustafa La Abidin, menjelaskan bahwa setiap warga binaan diwajibkan mengikuti seluruh program pembinaan yang telah disusun, termasuk pembinaan literasi melalui perpustakaan.

“Kami telah menyusun jadwal kunjungan perpustakaan bagi warga binaan dari setiap blok. Setiap hari perpustakaan dipastikan terisi dan dimanfaatkan secara maksimal oleh warga binaan untuk membaca,” ungkap Mustafa.

Menurutnya, antusiasme warga binaan cukup tinggi. Bahkan, beberapa di antaranya telah menamatkan lebih dari satu buku bacaan. Hal ini menunjukkan bahwa minat baca warga binaan terus mengalami peningkatan.

“Kami menyediakan beragam koleksi buku dengan topik yang variatif dan menarik. Mulai dari pengetahuan umum, keagamaan, hingga motivasi, sehingga warga binaan merasa tertarik dan termotivasi untuk membaca,” tambahnya.

Keberadaan perpustakaan di Lapas Namlea dinilai memiliki banyak manfaat, di antaranya sebagai sarana edukatif, pembinaan kepribadian, rekreatif, serta sumber informasi bagi warga binaan.

Sementara itu, Kepala Lapas Kelas III Namlea, Muhammad M. Marasabessy, menegaskan bahwa perpustakaan merupakan ruang ilmu yang memiliki peran strategis dalam mendukung proses pembinaan warga binaan.

“Perpustakaan adalah salah satu bentuk pemenuhan hak warga binaan untuk memperoleh pendidikan dan akses informasi, meskipun berada di tempat yang terbatas,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa Lapas tidak hanya berfungsi sebagai tempat menjalani hukuman, tetapi juga sebagai tempat pembinaan yang berorientasi pada perubahan sikap dan peningkatan kualitas diri.

“Lapas bukan semata-mata tempat untuk menghukum, tetapi tempat untuk membina. Melalui perpustakaan, kami memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk terus belajar, memperluas wawasan, dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan agar kelak siap kembali ke masyarakat,” tuturnya.

(AL)

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments