Ticker

7/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pasang Iklan? Hubungi 085344204480



Suzuki Thunder, Motor Legendaris yang Jadi Impian Pedagang Bensin Eceran

Otomotif - Antrian panjang di SPBU untuk mengisi BBM jenis Pertalite maupun Pertamax kini menjadi pemandangan yang kerap terlihat. Di tengah deretan kendaraan yang mengular, ada satu jenis sepeda motor yang kerap mencuri perhatian: motor laki atau motor sport non-matic. Dan yang paling sering terlihat adalah Suzuki Thunder 125.

Meski sudah tidak lagi diproduksi, Suzuki Thunder justru menjadi incaran para pelaku usaha kecil, khususnya pedagang bensin eceran, pemilik warung kelontong, hingga usaha tambal ban. Bukan tanpa alasan, motor sport ini memiliki kapasitas tangki bahan bakar mencapai 14,5 liter—cukup besar untuk ukuran sepeda motor di kelasnya.

Kapasitas tangki yang jumbo inilah yang membuat Thunder dianggap “menguntungkan” bagi pedagang bensin eceran. Sekali isi penuh, volume BBM yang dibawa cukup banyak untuk dijual kembali dalam botol atau jeriken kecil. Tak heran, motor ini kerap terlihat ikut mengantri panjang di SPBU.

Suzuki Thunder sendiri pernah menjadi primadona di masanya. Dikenal tangguh, nyaman untuk perjalanan jauh, dan memiliki konsumsi BBM yang cukup efisien di kelas sport 125cc, motor ini akhirnya dihentikan produksinya pada tahun 2015. Penghentian tersebut dipicu oleh pergeseran tren pasar dari motor naked sport ke motor matic yang dianggap lebih praktis dan ekonomis.

Menariknya, meski sudah setop produksi di Indonesia, model serupa masih dipasarkan di luar negeri. Di Pakistan, misalnya, Suzuki menghadirkan varian 150cc dengan nama Suzuki GR150, yang secara desain dan konsep masih mempertahankan gaya Thunder.

Di pasar motor bekas, harga Suzuki Thunder cukup terjangkau. Unit second dibanderol mulai dari Rp3 juta hingga Rp10 juta, tergantung tahun produksi, kondisi mesin, serta kelengkapan surat-surat. Harga yang relatif murah ini semakin membuatnya diminati, terutama oleh pedagang BBM eceran yang membutuhkan motor dengan tangki besar namun biaya investasi rendah.

Seiring waktu, tak hanya Thunder yang dimanfaatkan. Beberapa pedagang juga terlihat menggunakan motor sport lain seperti Bajaj Pulsar 150 yang memiliki kapasitas tangki besar.

Namun, kini sejumlah SPBU mulai memperketat pengawasan distribusi BBM bersubsidi. Sistem barcode dan pembatasan pembelian diterapkan untuk mencegah potensi penyalahgunaan, khususnya pembelian dalam jumlah besar yang diduga untuk dijual kembali secara eceran.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana sebuah motor yang telah “pensiun” dari jalur produksi justru menemukan peran baru di tengah dinamika ekonomi masyarakat. Bagi sebagian orang, Suzuki Thunder mungkin sekadar motor lama. Namun bagi pelaku usaha kecil, ia adalah aset produktif yang tetap bernilai.

(Nanang) 

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments