Ticker

7/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pasang Iklan? Hubungi 085344204480




Rajut Kasih dalam Kristus, AMGPM Muan Modan dan Ebenhaezer Tifu Teguhkan Panggilan Jadi Garam dan Terang Dunia

TIFU
 - Dalam kasih Kristus, perbedaan bukanlah alasan untuk terpisah, melainkan kesempatan untuk saling mengenal, menguatkan, dan bertumbuh bersama dalam iman. Semangat inilah yang mewarnai kegiatan Koinonia Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) Ranting Muan Modan, Labuang, bersama AMGPM Ranting Ebenhaezer, Tifu, yang berlangsung pada 9–11 Oktober 2026.

Selama tiga hari, kedua ranting tidak sekadar bertemu dalam sebuah kegiatan organisasi, tetapi merajut persaudaraan sebagai satu keluarga dalam Tuhan. Melalui ibadah, pembinaan iman, pelayanan, aksi kepedulian, hingga meditasi dan doa bersama di sekitar api unggun, para pemuda diajak kembali merenungkan makna panggilan mereka sebagai generasi muda gereja.

Koinonia yang berarti persekutuan menjadi ruang bagi para pemuda untuk mengalami kasih persaudaraan secara nyata. Di dalamnya, mereka belajar bahwa iman bukan hanya diucapkan melalui doa dan pujian, tetapi juga dinyatakan melalui kepedulian, kerendahan hati, kesediaan mengampuni, dan ketulusan dalam melayani sesama.

Persekutuan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pemuda Kristen dipanggil untuk menghadirkan terang Kristus di tengah kehidupan, menjadi garam yang memberi rasa, serta membawa pengharapan bagi gereja dan masyarakat.

Bertumbuh dalam Iman, Dipersiapkan untuk Melayani

Rangkaian kegiatan diawali pada Jumat (9/10/2026) dengan sosialisasi “Beta AMGPM” yang membahas identitas organisasi, peran pemuda gereja, serta tugas dan tanggung jawab anggota dalam pelayanan.

Materi yang dibawakan Emo Seleky mengajak peserta memahami bahwa AMGPM bukan semata-mata wadah berkumpulnya anak muda, melainkan tempat pembentukan karakter, penguatan iman, dan pengembangan tanggung jawab sebagai generasi penerus gereja.

Pemuda gereja tidak hanya dipersiapkan untuk menjadi pemimpin organisasi, tetapi juga menjadi pribadi yang memiliki keteguhan iman, karakter Kristiani, serta kepedulian terhadap kehidupan sesama.

Kegiatan dilanjutkan dengan permainan kebersamaan yang mengutamakan kerja sama, kekompakan, komunikasi, dan sportivitas. Melalui kegiatan tersebut, peserta belajar bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan, tetapi ketika dipersatukan dalam kasih, perbedaan dapat menjadi kekuatan.

Pada sesi berikutnya, Ketua Majelis Jemaat GPM Labuang, Pdt. Ine Aponno, menyampaikan materi tentang penguatan kompetensi kepemimpinan, keterampilan komunikasi publik, dan cara berbicara yang baik sebagai orang muda.

Pembinaan ini menjadi bekal agar pemuda AMGPM mampu menyampaikan gagasan dengan bijaksana, membangun komunikasi yang sehat, serta mengambil bagian dalam pelayanan dengan penuh tanggung jawab.

Sebab, kepemimpinan Kristen bukan semata-mata tentang kedudukan atau kehormatan, melainkan kesediaan untuk melayani, menjadi teladan, dan mengutamakan kepentingan bersama.

Iman yang Hidup Melalui Kasih dan Kepedulian

Memasuki Sabtu (10/10/2026), semangat persekutuan diwujudkan melalui jalan pagi, senam bersama, dan aksi bersih lingkungan.

Kedua ranting berjalan bersama, menjaga kebugaran, membersihkan lingkungan, serta memasang imbauan mengenai pentingnya membuang sampah pada tempatnya.

Kegiatan sederhana ini mengandung pesan rohani yang mendalam. Iman yang bertumbuh seharusnya melahirkan kepedulian terhadap kehidupan dan lingkungan. Menjaga kebersihan bukan hanya tanggung jawab sosial, melainkan juga wujud syukur atas kehidupan dan alam yang dipercayakan Tuhan kepada manusia.

Pemuda Kristen dipanggil untuk menghadirkan kasih bukan hanya di dalam gedung gereja, tetapi juga di tengah masyarakat melalui tindakan nyata yang membawa manfaat bagi banyak orang.

Suasana persaudaraan semakin terasa melalui pertandingan persahabatan gawang mini antara anggota kedua ranting. Dalam pertandingan tersebut, peserta diajak menjunjung sportivitas, menghargai sesama, dan menempatkan persaudaraan di atas kemenangan.

Pada malam harinya, kedua ranting mengikuti ibadah syukur Hari Ulang Tahun ke-72 AMGPM Ranting Ebenhaezer Tifu. Ibadah tersebut menjadi kesempatan untuk mengucap syukur atas penyertaan Tuhan dalam perjalanan pelayanan sekaligus memperbarui semangat untuk terus berkarya bagi gereja.

Di tengah sukacita perayaan, para pemuda diingatkan bahwa pertumbuhan organisasi harus berjalan seiring dengan pertumbuhan iman, kedewasaan rohani, dan kesetiaan dalam pelayanan.

Menanamkan Nilai Kehidupan Sejak Dini

Pada Minggu (11/10/2026), anggota kedua ranting mengikuti ibadah Minggu bersama. Dalam ibadah tersebut, AMGPM Ranting Muan Modan turut mengambil bagian dalam pelayanan pujian sebagai ungkapan syukur dan persembahan talenta bagi kemuliaan Tuhan.

Kebersamaan juga diwujudkan melalui sosialisasi tabungan SimPel kepada anak-anak Sekolah Minggu Jemaat GPM Tifu oleh pegawai Bank Modern Cabang Namrole.

Kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan pentingnya menabung sejak dini. Selain memberikan pengetahuan praktis, pembinaan ini menjadi kesempatan untuk menanamkan nilai tanggung jawab, kedisiplinan, dan kebiasaan merencanakan masa depan.

Perhatian terhadap anak-anak merupakan bagian dari tanggung jawab bersama untuk mempersiapkan generasi yang bertumbuh dalam pengetahuan, karakter, dan nilai-nilai kehidupan yang baik.

Api Unggun Menjadi Ruang Refleksi Iman

Puncak kegiatan Koinonia berlangsung pada Minggu malam melalui meditasi, api unggun, dan doa bersama. Suasana penuh kehangatan menyatukan para peserta dalam perenungan tentang iman, pelayanan, dan persaudaraan.

Sebelum memasuki sesi refleksi, peserta mengikuti berbagai permainan yang membangun kekompakan dan kebersamaan. Kemeriahan semakin terasa dengan pembagian hadiah. Untuk memperkuat kerja sama, peserta dibagi dalam tiga kelompok, yakni Nasaret, Taman Eden, dan Galilea.

Namun, lebih dari sekadar permainan dan sukacita, malam api unggun menjadi momentum untuk berhenti sejenak dari kesibukan, menenangkan hati, serta merenungkan perjalanan hidup sebagai pemuda gereja.

Dalam suasana tersebut, para peserta diajak melihat kembali bagaimana mereka menjalani iman, memperlakukan sesama, dan mengambil bagian dalam pelayanan. Mereka juga diajak menyadari bahwa menjadi pengikut Kristus berarti bersedia dibentuk, belajar mengasihi, dan memberikan diri bagi kebaikan orang lain.

Api yang menyala menjadi gambaran simbolis tentang semangat pelayanan yang perlu terus dijaga. Sebagaimana api membutuhkan bahan bakar agar tetap menyala, kehidupan rohani pun membutuhkan doa, firman Tuhan, persekutuan, dan kesediaan untuk melakukan kehendak-Nya.

Melalui meditasi dan doa bersama, para pemuda meneguhkan komitmen untuk tidak membiarkan iman berhenti pada pengalaman selama kegiatan, tetapi membawanya pulang dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Cinderamata sebagai Tanda Kasih Persaudaraan

Sukacita persekutuan juga ditandai dengan pertukaran cinderamata antara AMGPM Ranting Muan Modan, Labuang, dan AMGPM Ranting Ebenhaezer, Tifu. Pertukaran cinderamata turut dilakukan antara Ketua Majelis Jemaat GPM Labuang dan Ketua Majelis Jemaat GPM Tifu.

Cinderamata tersebut menjadi simbol kasih, penghargaan, dan kenangan atas perjumpaan yang mempererat hubungan kedua jemaat dan ranting AMGPM.

Namun, makna terpenting dari perjumpaan tersebut bukan terletak pada cinderamata yang diberikan, melainkan pada persaudaraan yang telah dibangun dan komitmen untuk terus memeliharanya.

Mario Solissa: Jangan Biarkan Persaudaraan Berakhir Bersama Kegiatan

Ketua AMGPM Ranting Muan Modan, Mario Solissa, menekankan pentingnya memelihara hubungan persaudaraan yang telah terbangun selama kegiatan Koinonia.

Menurutnya, persekutuan tersebut mengingatkan para pemuda bahwa mereka bukan hanya rekan dalam organisasi, melainkan saudara seiman yang dipanggil untuk saling menopang dalam perjalanan pelayanan.

Ia mengajak seluruh anggota agar tidak sungkan berkomunikasi, berbagi pengalaman, dan memberikan dukungan ketika ada saudara yang menghadapi kesulitan.

Semangat persaudaraan, katanya, harus terus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seorang saudara mengalami kesusahan, yang lain hendaknya hadir untuk menguatkan, bukan justru membiarkannya menghadapi persoalan seorang diri.

Pesan tersebut sejalan dengan panggilan gereja untuk membangun persekutuan yang tidak hanya indah dalam perkataan, tetapi juga nyata dalam perbuatan kasih.

Pdt. Ine Aponno: Kita Berbeda Ranting, tetapi Satu dalam Kristus

Ketua Majelis Jemaat GPM Labuang, Pdt. Ine Aponno, menyampaikan terima kasih kepada Majelis Jemaat GPM Tifu dan AMGPM Ranting Ebenhaezer yang telah menerima rombongan AMGPM Ranting Muan Modan dengan penuh sukacita.

Ia mengapresiasi dukungan seluruh pengurus dan anggota yang telah mengambil bagian dalam menyukseskan kegiatan tersebut.

Baginya, perjumpaan itu bukan sekadar kunjungan organisasi, tetapi kesempatan untuk merasakan kembali indahnya menjadi satu keluarga dalam Kristus.

Meskipun berasal dari ranting dan jemaat yang berbeda, seluruh peserta dipersatukan oleh iman kepada Tuhan yang sama. Karena itu, hubungan yang terbangun diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan berakhir, tetapi terus bertumbuh melalui komunikasi, kerja sama, dan pelayanan bersama.

Ia berharap para pemuda terus saling mendukung, menjaga kekompakan, dan menghadirkan kesaksian iman yang membawa berkat bagi gereja dan masyarakat.

Syeny Solissa: Sambut Saudara dengan Kasih Kristus

Sekretaris AMGPM Ranting Ebenhaezer Tifu, Syeny Solissa, yang mewakili Ketua Ranting Simon Solissa, menyampaikan rasa syukur atas kehadiran AMGPM Ranting Muan Modan dalam kegiatan tersebut.

Ia memandang kehadiran saudara-saudara dari Labuang sebagai kesempatan untuk mempererat hubungan, berbagi sukacita, dan bertumbuh bersama dalam pelayanan.

Semangat penerimaan itu menunjukkan bahwa dalam persekutuan Kristen, setiap orang hendaknya disambut dengan kasih, tanpa merasa asing karena perbedaan tempat atau latar belakang.

Ia berharap para peserta membawa pulang bukan hanya kenangan indah, tetapi juga semangat untuk terus menjaga persaudaraan, saling mendoakan, dan melayani Tuhan dengan setia.

Dengan demikian, Koinonia tidak berhenti sebagai agenda tiga hari, melainkan menjadi awal bagi hubungan pelayanan yang semakin erat dan berkelanjutan.

Pdt. Glen Huwae: Saling Mengampuni dan Terus Berjalan dalam Kasih

Ketua Majelis Jemaat GPM Tifu, Pdt. Glen Huwae, mengajak seluruh peserta untuk menjaga kebersamaan dan saling memaafkan apabila selama kegiatan terdapat perkataan atau tindakan yang kurang berkenan.

Dalam sebuah persekutuan, setiap orang datang dengan karakter dan kebiasaan yang berbeda. Karena itu, kerendahan hati untuk mengakui kekurangan serta kesediaan untuk mengampuni menjadi bagian penting dalam membangun persaudaraan Kristen.

Ia mengingatkan agar setiap peserta membawa pulang hal-hal baik dari perjumpaan tersebut, sementara kekurangan yang terjadi dijadikan bahan pembelajaran untuk membangun hubungan yang lebih baik.

Pesan itu menegaskan bahwa kasih Kristus harus menjadi dasar dalam setiap relasi. Persaudaraan tidak berarti tidak pernah mengalami perbedaan, tetapi kesediaan untuk tetap saling menghormati, memaafkan, dan berjalan bersama meskipun terdapat kekurangan.

Ia berharap penyertaan Tuhan senantiasa menyertai seluruh peserta ketika kembali ke tempat masing-masing, sehingga sukacita dan semangat pelayanan yang dialami selama Koinonia tetap hidup dalam keseharian.

Menjadi Garam dan Terang bagi Dunia

Kegiatan Koinonia AMGPM Ranting Muan Modan dan AMGPM Ranting Ebenhaezer Tifu menjadi pengingat bahwa pemuda gereja memiliki panggilan yang lebih besar daripada sekadar menjadi anggota organisasi. Mereka dipanggil untuk menjadi saksi kasih Kristus melalui kehidupan yang nyata.

Dalam Matius 5:13–16, Yesus mengajarkan para pengikut-Nya untuk menjadi garam dunia dan terang dunia. Panggilan ini mengajak setiap pemuda untuk menghadirkan kebaikan, menjaga nilai kebenaran, menolong sesama, serta menjadi teladan melalui perkataan dan perbuatan.

Menjadi garam berarti menghadirkan pengaruh yang baik, menjaga kehidupan dari hal-hal yang merusak, dan membawa nilai kasih di tengah masyarakat. Menjadi terang berarti hidup dalam kebenaran, menunjukkan jalan melalui keteladanan, serta menghadirkan pengharapan bagi mereka yang membutuhkan.

Karena itu, semangat Koinonia hendaknya terus dibawa ke dalam keluarga, lingkungan gereja, dunia pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan bermasyarakat.

Pemuda AMGPM diharapkan menjadi generasi yang tidak hanya rajin mengikuti kegiatan gerejawi, tetapi juga setia berdoa, tekun melayani, menghormati orang tua, mengasihi sesama, menjaga lingkungan, dan berani melakukan hal yang benar.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah persekutuan tidak hanya diukur dari meriahnya kegiatan atau banyaknya agenda yang terlaksana, tetapi dari perubahan hati dan kesediaan setiap orang untuk hidup semakin dekat dengan Tuhan.

Dari Tifu, kasih persaudaraan telah dirajut. Dalam persekutuan, iman kembali diteguhkan. Melalui pelayanan, kasih diwujudkan. Dan dalam kehidupan sehari-hari, para pemuda dipanggil untuk terus menjadi garam dan terang dunia.

Kiranya Tuhan Yesus Kristus senantiasa menyertai AMGPM Ranting Muan Modan dan Ranting Ebenhaezer Tifu, meneguhkan langkah pelayanan mereka, serta menjadikan setiap pemuda sebagai alat kasih dan berkat bagi sesama, demi kemuliaan nama Tuhan. (KT/09) 

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments