Pemerintah Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel)
meminta keterlibatan warga setempat untuk mengelola dan mengembangkan potensi
wisata yang ada di daerah ini.
Bupati Tana Toraja Nico Biringkanae, dalam setiap
kunjungan kerjanya di setiap Kecamatan
mengatakan masyarakat atau warga setempat harus berkolaborasi untuk mendorong
pengembangan sektor pariwisata di daerahnya masing-masaing.
"Contohnya misalnya ada potensi objek wisata di
suatu daerah atau lembang (desa), maka seharusnya mulai ditata oleh warga
setempat, setelah itu bisa dilaporkan ke pemerintah bahwa objek ini berpotensi
dan dapat menarik para wisatawan apabila Dikembangka sehingga perlu meminta
keterlibatan Pemkab Tana Toraja untuk pengembangan objek wisata tersebut,"
kata Bupati.
Bupati meyakini, setiap desa memiliki potensi wisata
dan panorama alam yang indah untuk dikembangkan menjadi objek wisata, namun
yang menjadi masalah, warga setempat tidak sadar kalau lokasi itu layak untuk
dijual menjadi objek wisata.
"Saat ini ada beberapa objek wisata baru yang
sedang dikembangkan oleh warga masyarakat dan aparat lembang (desa), termasuk
objek wisata Talondo Tallu yang berada di Lembang Balepe, Kecamatan Malimbong
Balepe. Tempat ini sudah mulai ramai dikunjungi para wisatawan wisatawan,"
katanya pula.
Sebelumnya, Camat Malimbong Balepe Anthonius Lintin
mengatakan objek wisata Talondo Tallu merupakan tempat yang sangat indah dan mempesona karena masih alami, sudah lama dikunjungi
para wisatawan, baik wisatawan lokal maupun wisatawan manca Negara, tetapi
belum ditata secara maksimal.
"Objek wisata Talondo Tallu jika disentuh dengan
infrastruktur yang memadai, akan mirip dengan permandian alam Bantimurung di
Maros. Penanganan infrastruktur penunjang objek wisata Talondo Tallu selama ini
masih menggunakan dana APBD yang masih sangat minim, padahal untuk
mengembangkan objek wisata ini butuh dana besar," katanya.
Setelah Kabid Pemasaran dan Promosi Dinas Pariwisata
Tana Toraja, Rospita Napa Biringkanae dan rombongan berkunjung ke lokasi ini
beberapa waktu yang lalu, beliau mengatakan Pemerintah Kabupaten Tana Toraja
sangat serius untuk mengelola objek wisata Air terjun Talondo Tallu ini dan
harus mendapat dukungan penuh dari pemerintah Pusat.
Terpisah Kepala Lembang Balepe, Kala Lembang
mengharapkan supaya obyek wisata Talondo
Tallu ini secepatnya dibenahi sarana dan prasarana pendukungnya, baik itu
infrastruktur jalan, gasebo dan pondok untuk Indo’ Talondo sangpenjaka objek
Talondo Tallu untuk ditempati menginap sewaktu-waktu.
“Atas nama masyarakat dan Pemerintah Lembang Balepe
menyampaikan terima kasihnya, atas kunjungan Kabid Pemasaran dan Promosi Dinas
Pariwisata Ibu Rospita Napa Biringkanae ke lokasi ini, semoga objek wisata
Talondo Tallu secepatnya mendapat perhatian dari pemerintah,” pungkasnya.
Untuk diketahui, bahwa untuk tahun 2017, Pemda Tana
Toraja telah mengelontorkan anggaran kurang lebih lima ratus juta untuk
pembenahan infrastruktur jalan, guna mempermudah akses para wisatawan menuju ke
lokasi objek wisata, inilah yang merupakan langkah awal keseriusan Pemkab Tana
Toraja untuk mengembangkan obyek wisata Talondo Tallu.
Pasalnya untuk menuju kawasan obyek wisata Talondo
Tallu masih ada kurang lebih 4 kilo meter jalan setapak yang berkelok-kelok
kalau kita lewat jalan poros Passobo – Matangli – Balepe dan kalau lewat poros
Se’seng – Balelepe kita dapat menempuh jalan tanah yang kurang lebih 10 kilo
meter.
Air terjun Talondo Tallu merupakan sumber mata air
dari dua sungai yang berbeda yakni sungai Pekalian dan sungai Sarang. Kedua
sungai ini bertemu di atas puncak air terjun, sehingga dapat mengakibatkan
terbelah dua buah sungai besar menjadi tiga pancuran inilah yang disebut
Talondo Tallu (tiga pancuran air).
Objek wisata Talondo Tallu airnya sangat jernih dan
memiliki cerita yang menarik, sebab dijaga oleh seorang nenek perempuan paru
baya bernama Bungan (70) atau lebih dikenal Ne`Sewa atau Indo Talondo.
Indo Talondo merupakan pemangku adat Tongkonan Papa
Pune Buttupalli, Lembang Balepe, rambutnya panjang kurang lebih 9 meter hingga
sekarang terus dibiarkan, sebab tidak bisa dipotong dengan gunting biasa.
Menurut cerita masyarakat setempat, bila ada sesuatu
yang akan terjadi firasat Indo Talondo dirasakan dari rambutnya, dan tidak bisa
semua pengunjung melihat penjaga wilayah ini, kecuali seizin dengan pemangku
adat atau kerabat dekatnya.
Andarias salah satu tokoh masyarakat Balepe yang
ditemui disekitar objek wisata mengatakan untuk ke obyek wisata air terjun
Talondo Tallu ini setiap pengunjung dilarang menggunakan pakaian hitam sesuai
aturan pemangku adat. Kalau ada pengunjung yang tidak menidahkan larangan
tersebut sering ada pengujung yang kesurupan (sakit)” .
Sepanjang aliran sungai ini mulai dari objek wisata
Air terjun Talondo Tallu sampai pada pertemuan aliran sungai objek wisata Air terjun Talondo Pakara tidak
boleh melakukan penangkapan terhadap binatang sejenis MOA (masapi) yang
sewaktu-waktu dapat keluar dari tempat persembunyiannya, namun diakuinya pula
bahwa jenis binatang masapi yang diakui sebagai saudara kembar para leluhur
Tonkonan Papa Pune Buttupalli ini, sudah jarang ditemui muncul kepermukaan pada
siang hari tidak seperti dulu-dulu, saat masih sering dikasih makan sesajian.
“Jarang dikasih sesajian apa lagi sudah banyak
generasi muda sekarang tidak mengindahkan pesan dan larangan para leluhur,”
terang Andarias dengan penuh kesal.
Sejak objek wisata Air terjun Talondo dibuka untuk
umum, objek wisata alam yang masih alami ini sudah mulai ramai dikunjungi baik
wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara, terutama pada hari sabtu – minggu
dan pada hari –hari libur. (KT-MZT)

0 Comments