Ticker

7/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pasang Iklan? Hubungi 085344204480



Drama Politik Maluku Sulit Ditebak

FOTO : Direktur Walang Demokrasi, Abubakar Solissa

Jakarta, Kompastimur.com
Pemilihan Gubernur (Pilgub) Maluku ibarat benang kusut yang sangat sulit diurai, butuh kesabaran, ketelatenan dan kemampuan khusus untuk bisa mengurainya satu-persatu.

Hal itu diungkapkan Direktur Walang Demokrasi, Abubakar Solissa kepada media ini, Selasa (3/10).

Menurutnya, komunikasi politik yang terjadi pada level elit partai sangat cair dan flekibel sehingga membuat publik sedikit mengalami kesulitan dalam membaca peta kekuatan politik dari masing-masing kandidat. Bahkan sang petahana pun belum bisa memastikan dukungan partai politik kepadanya.

Apalagi, lanjutnya, diantara semua kandidat Calon Gubernur yang telah mendeklarasikan diri untuk maju beratarung dalam kontestasi Maluku satu, hanya Murad Ismail yang baru mendapatkan rekomendasi partai politik.
 “Situasi yang berbeda justru dirasakan oleh para calon yang lain. Ketatnya kompetisi pada level elit membuat para Calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang ingin bertarung di pilkada Maluku terpaksa harus merekonsolidasi komunikasi politiknya. Bahkan ada yang mencoba untuk membongkar formasi komposisi pasangan calon yang sudah dipaketkan dari awal hanya untuk mengakomodasi kepentingan para elit partai,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan, pertarungan kompromi dan negosiasi antara elit partai dan kandidat ini bisa dibaca melalui dua hal: Pertama, Tidak ada kepastian soal hasil survei yang sering dijadikan sebagai rujukan partai politik dalam mengukur kemampuan elektabilitas para calon, sehingga calon dengan tingkat elektabilitas tertinggi-pun harus mengalami kesulitan dalam mendapatkan rekomendasi partai;

Kedua, Selain mekanisme survei, ada “political diskresi”  yang biasa digunakan oleh partai politik sebagai pertimbangan partai dalam mengeluarkan rekomendasi. Istilah political diskresi ini bisa terjemahkan sebagai loyalitas, dedikasi dan konstribusi terhadap partai. Namun faktanya, pertimbangn loyalitas, dedikasi dan konstribusi yang selama ini diberikan oleh para kandidat terhadap partai politik juga belum mendapat kepastian yang jelas.

“Kondisi ini mengkonfirmasikan bahwa Pilgub Maluku itu ibarat sebuah drama yang alur ceritanya sulit ditebak. Kita hanya diberikan kesempatan untuk berspekulasi, namun tidak diberikan ruang untuk mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi di akhir cerita dari ‘drama politik’ ini,” pungkasnya. (KT-01)
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments