Ticker

7/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pasang Iklan? Hubungi 085344204480



Kadinkes Bursel: Belum Ada Laporan Kasus Super Flu

Namrole - Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buru Selatan (Bursel), Yurdin Halibi, menyatakan hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) maupun puskesmas terkait keberadaan penyakit Super Flu di wilayah Buru Selatan.

“Sampai sekarang belum ada laporan yang masuk kepada saya terkait adanya penyakit Super Flu di Buru Selatan,” ujar Yurdin kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa (13/1/2026).


Meski demikian, Yurdin menegaskan bahwa isu Super Flu yang kini menjadi perhatian nasional akibat penyebarannya yang cepat tetap menjadi fokus pemantauan Dinas Kesehatan. Ia meminta seluruh fasilitas layanan kesehatan dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan serta segera melaporkan jika menemukan gejala yang mengarah pada penyakit tersebut.

“Kerja sama semua pihak sangat dibutuhkan. Jika ada gejala yang mencurigakan, harus segera dilaporkan agar dapat ditangani lebih cepat sebelum kondisi bertambah parah,” tegasnya.


Menurut Yurdin, ancaman Super Flu tidak bisa dianggap remeh karena laju penularannya tergolong agresif. Oleh karena itu, pengendalian dan pencegahan tidak hanya menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan semata, tetapi memerlukan peran aktif seluruh elemen masyarakat.

“Kondisi ini harus menjadi perhatian bersama, bukan hanya Dinas Kesehatan,” tambahnya.

Munculnya istilah Super Flu belakangan menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat Indonesia. Penyakit ini dilaporkan telah menyebar secara global dan mulai terdeteksi di Tanah Air. Meski disebut “super”, virus ini masih berasal dari keluarga influenza, namun merupakan varian baru dengan karakteristik yang perlu diwaspadai.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan telah melaporkan adanya temuan kasus Super Flu. Hingga Desember 2025, tercatat sebanyak 62 kasus terkonfirmasi, meskipun belum menunjukkan lonjakan signifikan seperti yang terjadi di beberapa negara lain.


Secara klinis, Super Flu memiliki gejala yang mirip dengan influenza pada umumnya, namun dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi. Penderitanya dapat mengalami demam tinggi, nyeri otot hebat, kelelahan ekstrem, serta durasi sakit yang lebih panjang dibandingkan flu biasa.

“Gejalanya hampir sama, tetapi cenderung lebih berat. Demam bisa tinggi, nyeri otot lebih terasa, tubuh sangat lemas, dan masa pemulihan bisa berlangsung lebih dari dua minggu. Risiko komplikasinya juga lebih besar,” jelas Yurdin.


Ia menambahkan, kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, serta penderita penyakit penyerta seperti diabetes, penyakit jantung, ginjal, dan gangguan paru-paru memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi berat akibat infeksi ini.

Sebagai langkah pencegahan, Yurdin menekankan pentingnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari.

“Gunakan masker saat sakit, terapkan etika batuk dan bersin, rajin mencuci tangan, istirahat yang cukup, serta jaga daya tahan tubuh. Kebiasaan ini sangat penting untuk mencegah penularan dan melindungi kelompok rentan,” tandasnya.


Sekadar diketahui, Super Flu merupakan varian baru virus influenza yang belakangan dilaporkan masuk ke Indonesia dengan tingkat penularan yang sangat cepat. Secara medis, virus ini diidentifikasi sebagai influenza A subvarian H3N2 subclade K, yang mengalami mutasi genetik sehingga lebih efektif menginfeksi saluran pernapasan manusia dan berpotensi menimbulkan gejala lebih berat dibandingkan flu musiman biasa. (KT/03) 

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments