Ticker

7/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pasang Iklan? Hubungi 085344204480



Lima Hari Nelayan Paga Hilang, Warga Sikka Geram: “Kami Butuh Helikopter, Bukan Kunjungan Seremonial”

SIKKA, 29 Januari 2026 — Memasuki hari kelima pencarian dua nelayan asal Desa Paga, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, yang hilang di perairan Pantai Selatan Flores, harapan keluarga kian menipis. Anwar Mahmud dan Norisius Sapa dilaporkan tak kembali melaut sejak Minggu (25/1), namun hingga Kamis (29/1), upaya pencarian belum membuahkan hasil.

Di tengah ketidakpastian nasib kedua korban, kritik keras mengalir dari masyarakat Paga terhadap Pemerintah Kabupaten Sikka dan Basarnas yang dinilai lamban, minim armada, serta lemah dalam koordinasi penanganan darurat.

Kunjungan Wakil Bupati Sikka, Simon Subandi Supriadi, ke rumah keluarga korban pada Rabu (28/1), justru memicu kekecewaan. Warga menilai kehadiran pejabat daerah tersebut belum diikuti langkah konkret yang berdampak langsung pada percepatan pencarian.

“Sudah lima hari, tapi hasilnya nihil. Negara seolah hadir hanya lewat kata-kata dan foto kunjungan. Di lapangan, kami tidak melihat perubahan signifikan. Yang kami butuhkan adalah tindakan nyata,” ujar salah satu perwakilan warga Paga dengan nada kecewa.

Gelombang Ganas, Armada Terbatas

Pantai Selatan Flores dikenal memiliki karakter gelombang ekstrem, terutama pada bulan Januari dan Februari. Kondisi ini membuat pencarian menggunakan kapal motor kecil dinilai tidak efektif dan berisiko tinggi.

Warga menilai pengerahan armada udara seperti helikopter menjadi kebutuhan mendesak untuk memperluas area pencarian yang tak terjangkau jalur laut akibat cuaca buruk.

“Dengan kondisi laut seperti ini, penyisiran udara adalah solusi paling masuk akal. Kalau hanya mengandalkan kapal biasa, peluang menemukan korban semakin kecil,” kata warga lainnya.

Komitmen Kemanusiaan Dipertanyakan

Lambannya penambahan armada pencarian memunculkan pertanyaan serius tentang komitmen pemerintah daerah dalam melindungi warganya, khususnya nelayan kecil yang setiap hari bertaruh nyawa di laut.

Fasilitas negara yang dibiayai oleh uang rakyat seharusnya dapat dimobilisasi secara cepat dalam situasi darurat. Namun hingga hari kelima, belum terlihat adanya upaya maksimal untuk menghadirkan fasilitas udara yang dinilai krusial.

Birokrasi yang berbelit dalam pengadaan atau peminjaman helikopter disebut menjadi salah satu penghambat utama, sekaligus memperkecil peluang korban ditemukan dalam kondisi selamat.

Tiga Tuntutan Mendesak Warga Paga

Masyarakat Desa Paga secara terbuka menyampaikan tuntutan kepada pemerintah:

  1. Segera mengerahkan helikopter untuk penyisiran udara di perairan Pantai Selatan Flores.

  2. Menambah armada laut dengan spesifikasi yang mampu menghadapi gelombang ekstrem.

  3. Memperkuat koordinasi lintas sektoral, agar BPBD Sikka lebih proaktif menggandeng pemerintah provinsi maupun pusat.

Hingga berita ini diturunkan, keluarga korban masih bertahan di bibir pantai, menunggu kabar yang tak kunjung datang. Mata sembab para istri dan pertanyaan polos anak-anak yang berharap ayah mereka pulang menjadi potret pilu dari tragedi ini.

Warga Paga menegaskan, jika dalam waktu dekat tidak ada langkah nyata dan penambahan fasilitas signifikan, mereka akan mempertanyakan kembali sejauh mana kehadiran negara benar-benar dirasakan oleh rakyat kecil di saat musibah melanda. (MM) 

#PrayForPaga #SikkaBerduka #SaveNelayanPaga #BasarnasSikka #PemkabSikka #Kemanusiaan

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments