Jakarta – Komitmen transparansi dan akuntabilitas dalam menjaga ketahanan energi nasional ditegaskan Pertamina Patra Niaga melalui dialog terbuka bersama para Pemimpin Redaksi media massa nasional di Integrated Terminal Jakarta, Jumat (13/2).
Kegiatan ini menjadi langkah strategis perusahaan dalam membuka secara langsung proses bisnis hilir energi, mulai dari penerimaan produk, pengendalian mutu, hingga distribusi ke masyarakat. Integrated Terminal Jakarta sendiri merupakan salah satu simpul vital distribusi energi nasional yang mencakup Fuel Terminal Plumpang, Fuel Terminal Tanjung Priok, dan LPG Terminal Tanjung Priok.
Secara khusus, Fuel Terminal Plumpang berperan besar dalam menjaga pasokan energi, melayani lebih dari 120 lembaga penyalur dan menyumbang sekitar 17–20 persen kebutuhan BBM nasional. Posisi ini menjadikannya objek vital nasional yang dioperasikan dengan standar keselamatan dan pengawasan ketat.
Direktur Armada Logistik Pertamina Patra Niaga, Arif Yunianto, menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar kunjungan, melainkan momentum membangun pemahaman komprehensif tentang bagaimana distribusi energi dikelola secara aman, andal, dan berkelanjutan.
“Kami ingin memberikan gambaran utuh mengenai proses bisnis hilir Pertamina Patra Niaga, khususnya bagaimana distribusi energi dipastikan berjalan dengan standar operasional berbasis keselamatan, keandalan, serta kualitas produk yang terjaga,” ujarnya.
Dalam sesi pemaparan, perusahaan menjelaskan secara rinci proses pengendalian mutu BBM. Mulai dari pengambilan sampel di laboratorium, pengujian menggunakan CFR Engine guna memastikan kadar oktan sesuai spesifikasi, sistem metering sebagai jalur penerimaan dari kilang, hingga tahapan filling shed sebelum BBM didistribusikan ke SPBU dan lembaga penyalur.
Corporate Secretary PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita, menekankan bahwa transparansi ini semakin relevan menjelang Ramadan dan Idulfitri, periode dengan lonjakan kebutuhan energi yang signifikan.
“Kami mengajak para pemimpin redaksi melihat langsung bahwa produk BBM yang beredar telah melalui tahapan pemeriksaan sangat ketat, diawasi tim di lapangan, dan didukung teknologi tinggi untuk memastikan spesifikasi tetap terjaga,” jelas Arya.
Sementara itu, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV. Dumatubun, memaparkan bahwa pengawasan kualitas dilakukan berlapis, sejak di kilang, saat penerimaan di terminal, hingga di SPBU. Bahkan di tingkat SPBU, pengecekan rutin dilakukan setiap pagi dan sore.
“Pemeriksaan meliputi density, volume, serta deteksi potensi kontaminasi. Ada metode pasta air untuk mendeteksi kandungan air di tangki timbun, serta pengujian density dengan bejana ukur. SPBU juga wajib menyediakan sampel produk yang dapat dilihat konsumen. Quality control ini berlangsung dari hulu ke hilir tanpa celah,” tegasnya.
Salah satu peserta dialog, Rachmadin Ismail, mengapresiasi keterbukaan tersebut. Menurutnya, kunjungan ini memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai jalur distribusi dan prosedur pengawasan BBM sebelum dinyatakan layak edar.
Melalui forum ini, Pertamina Patra Niaga mempertegas posisinya bukan hanya sebagai operator distribusi energi, tetapi juga sebagai institusi yang menjunjung transparansi publik. Di tengah dinamika kebutuhan energi nasional, langkah ini menjadi penegasan bahwa ketahanan energi tidak hanya dijaga lewat infrastruktur, tetapi juga lewat keterbukaan informasi dan akuntabilitas kepada masyarakat. (KT/06)

0 Comments