Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menggelar makan malam kebangsaan bersama para mantan Presiden dan Wakil Presiden RI serta para ketua umum partai politik di Istana Negara, Jakarta Pusat, Selasa malam (3/2/2026).
Dalam jamuan yang berlangsung hangat dan penuh keakraban itu, Prabowo didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka serta jajaran Kabinet Merah Putih. Sejumlah tokoh nasional tampak hadir, di antaranya Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-7 RI Joko Widodo, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Boediono, serta Ma'ruf Amin.
Presiden Prabowo terlihat duduk di tengah, diapit Joko Widodo dan Susilo Bambang Yudhoyono—sebuah simbol kesinambungan kepemimpinan nasional lintas generasi.
Ketua Umum Relawan Jokowi (ReJO) for Prabowo-Gibran, HM Darmizal, menilai pertemuan tersebut sebagai momentum penting dalam konteks dinamika global yang tengah memanas.
“Mengapa pertemuan ini sangat penting? Karena konteksnya tidak main-main. Dunia sedang memanas. Eskalasi konflik Amerika Serikat–Israel dan Iran di akhir Februari 2026 mengguncang tatanan geopolitik global. Harga energi bergejolak, stabilitas kawasan terancam, dan Indonesia tidak bisa tinggal diam,” ujar Darmizal, Rabu (4/2/2026).
Menurutnya, langkah Prabowo yang baru kembali dari kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat dan Timur Tengah menunjukkan sikap kepemimpinan yang inklusif dan terbuka.
“Beliau tidak memilih jalan sendiri. Beliau memilih mendengar, menyerap kebijaksanaan para pendahulu, dan menghimpun masukan lintas generasi untuk merumuskan langkah mitigasi terbaik bagi Indonesia,” katanya.
Darmizal menyebut sikap tersebut sebagai cerminan kenegarawanan. Ia menilai Prabowo menunjukkan kematangan politik dengan merangkul para mantan pemimpin nasional dalam satu meja dialog.
“Inilah yang saya maksud bahwa Prabowo telah selesai dengan dirinya sendiri. Kepemimpinannya hari ini sepenuhnya untuk bangsa dan negara. Pemimpin yang mau duduk bersama para pendahulunya, berdialog, dan meminta saran adalah tanda kedewasaan,” tegasnya.
Ia juga menyinggung bahwa Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri berhalangan hadir karena agenda internal partai di Bali, namun diwakili oleh Ketua DPR RI Puan Maharani.
“Ini menunjukkan pesan persatuan tetap tersampaikan. Tidak ada yang menolak panggilan kebangsaan. Semua elemen hadir, baik langsung maupun melalui representasi,” ujarnya.
Bagi Darmizal, makan malam kebangsaan di Istana bukan sekadar seremoni, melainkan simbol konsolidasi nasional di tengah situasi global yang tidak menentu.
“Di saat dunia bergejolak, Indonesia menunjukkan kematangan. Pemimpin masa kini dan masa lalu duduk bersama, bukan saling menyalahkan, tetapi saling menguatkan. Di situlah letak kenegarawanan Prabowo bukan pada retorika, melainkan pada tindakan nyata,” pungkasnya.
Ia berharap semangat persatuan dan dialog kebangsaan tersebut terus dijaga demi menjaga stabilitas dan masa depan Indonesia. (W)

0 Comments