Ticker

7/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pasang Iklan? Hubungi 085344204480



Langit Liang Berduka: Kepergian Nikson Nurlatu Robek Hati Bursel, Tangis Mengiringi Putra Terbaik ke Peristirahatan Terakhir

Bursel – Duka itu nyata. Ia terasa berat, sunyi, dan menyesakkan. Desa Liang, Kecamatan Leksula, Rabu (8/4/2026), menjadi saksi bagaimana kepergian Nikson Nurlatu, Anggota Bawaslu Kabupaten Buru Selatan, merobek hati banyak orang.

Di usia yang baru 33 tahun, saat pengabdian sedang berada di puncaknya, Tuhan memanggil pulang putra terbaik Buru Selatan ini. Lebih pilu lagi, almarhum berpulang tanpa sempat meninggalkan buah hati menyisakan luka mendalam yang tak mudah terobati bagi keluarga.

Sejak pagi, rumah duka dipenuhi wajah-wajah kehilangan. Tangis pecah tanpa bisa dibendung. Langkah kaki pelayat terasa berat, seakan enggan melepas sosok yang selama ini dikenal ramah, tulus, dan penuh pengabdian.

Hadir memberikan penghormatan terakhir, Bupati Buru Selatan La Hamidi bersama Wakil Bupati Gerson Eliaser Selsily, jajaran Bawaslu Provinsi Maluku, Ketua dan anggota Bawaslu Bursel, pimpinan OPD, Ketua dan anggota KPU Bursel, Kapolsek Leksula IPTU Bastian Tuhuteru, unsur Forkopimda kecamatan, hingga keluarga besar GMNI, organisasi yang pernah ditempa oleh almarhum sebagai Ketua Cabang Ambon.

Sosok Nikson bukan orang biasa. Ia adalah representasi anak daerah yang bangkit dari desa, menapaki jalan pengabdian dengan tekad dan integritas. Dari aktivis mahasiswa hingga menjadi anggota Bawaslu, hidupnya adalah cerita tentang perjuangan dan kesetiaan pada nilai.

Namun semua itu kini tinggal kenangan.

Suasana semakin pecah saat Ketua Bawaslu Bursel, Robo Souwakil, membacakan riwayat hidup almarhum. Suaranya bergetar, kalimat demi kalimat tersendat oleh air mata.

“Beliau bukan sekadar rekan… beliau saudara kami,” ucapnya lirih, sebelum akhirnya tak kuasa melanjutkan tanpa menahan tangis.

Kesedihan itu seperti menjalar ke seluruh ruangan. Tidak ada yang benar-benar kuat di hadapan kehilangan sebesar ini.

Diketahui, almarhum telah berjuang melawan sakit sejak Februari 2026. Dalam diam, ia menanggungnya. Hingga akhirnya, pada 7 April 2026, Tuhan memanggilnya pulang dan menutup perjalanan singkat namun penuh makna.

Perwakilan keluarga melalui Pdt. Seles Hukunala menyampaikan ungkapan hati yang begitu dalam. Dengan suara terbata, ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah hadir dan mendampingi.

“Terima kasih kepada Bawaslu, Pemerintah Daerah, dan semua yang telah datang. Terima kasih kepada GMNI yang telah membentuk anak kami. Jika ada salah dan khilaf, kami mohon dimaafkan,” ujarnya, diselingi tangis.

Ucapan penuh haru juga disampaikan kepada Bupati La Hamidi dan Wakil Bupati Gerson Eliaser Selsily yang hadir langsung di desa Liang. Ini sebuah penghormatan yang tak ternilai bagi keluarga.

Dari Bawaslu Provinsi Maluku, Dr. Subaer menegaskan bahwa kepergian Nikson adalah kehilangan besar.

“Kita semua tahu, almarhum adalah pribadi yang baik hati. Ia meninggalkan banyak kebaikan. Itu yang akan menjadi saksi bagi dirinya di hadapan Tuhan,” katanya.

Namun mungkin, ungkapan paling menggugah datang dari Bupati Buru Selatan, La Hamidi. Dengan wajah penuh duka dan suara yang tertahan, ia menggambarkan kehilangan yang dirasakan bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi sebagai sesama manusia.

“Kami tidak hanya kehilangan seorang anggota Bawaslu. Kami kehilangan anak daerah terbaik, sosok muda yang jujur, rendah hati, dan selalu tersenyum di tengah tanggung jawab besar,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa almarhum adalah figur langka, tenang dalam sikap, kuat dalam prinsip, dan bersih dalam pengabdian.

“Beliau bekerja bukan untuk dilihat, tetapi untuk memastikan keadilan tetap berdiri. Integritasnya tidak diragukan. Kepergiannya adalah kehilangan besar bagi demokrasi di Buru Selatan,” tegas Bupati.

Lebih jauh, La Hamidi mengajak seluruh masyarakat untuk tidak hanya berduka, tetapi juga melanjutkan nilai-nilai yang telah diwariskan almarhum.

“Jika kita mencintai almarhum, maka kita harus melanjutkan semangatnya, jujur, bekerja dengan hati, dan mengabdi tanpa pamrih,” tambahnya.

Di tanah Liang, tempat ia dilahirkan, Nikson akhirnya dimakamkan. Tanah yang dulu menjadi awal langkahnya, kini menjadi tempat peristirahatan terakhirnya.

Tangis perlahan mereda, namun kehilangan ini akan tinggal lama di hati banyak orang.

Nikson Nurlatu telah pergi. Tapi ketulusannya, pengabdiannya, dan jejak kebaikannya akan tetap hidup dan menjadi cahaya bagi Buru Selatan yang ia cintai. (KT/02) 

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments