Viral - Peristiwa yang terjadi di Maluku Tenggara, yakni penikaman terhadap Nus Kei di Bandara Karel Sadsuitubun, Ibra, Maluku Tenggara pada Minggu (19/4/2026) adalah sebuah nestapa dan ujian terhadap persaudaraan kita, dengan Hukum Larvul Ngabal sebagai ruh dan penuntun bagi kita semua dalam menjawab tantangan zaman.
Pesan orang tua kita bahwa “Laar I kanimun in li tal wear”, darah lebih kental daripada air, merupakan “satu tali nafas yang menembus ruang dan waktu bagi kita generasi muda, bahkan bagi kita semua masyarakat Kei yang ada di Tanah Evav Nuhu Kilkilun, maupun kita semua yang ada di tanah rantau, termasuk Jakarta, tempat kita berteduh dan melanjutkan hidup.
Dalam hati yang berduka, saya berpikir dan merenung dinamikanya perjalanan dan kiprah kita masing-masing, apakah hari ini ketika “Fangnanan Ain Ni Ain” hanya “simbol kaku yang kita banggakan tanpa mampu kita hayati dalam jiwa da raga kita.
Dari titik terendah nestapa saya itulah, saya berharap kepada Saudara-saudaraku orang Evav, Kei, yang ada di Jakarta agar, pertama, mari kita bertawakal dan berserah diri kepada Sang Khaliq sebagai sumber kehidupan dan tempat kita berlindung. Saya dan Keluarga Besar ikut berduka cita yang mendalam atas tragedi ini, dan saya berharap penuh kita semua, masyarakat Kei yang ada di Jakarta agar tetap menjaga persaudaraan kita. Kita serahkan semua persoalan ini kepada proses hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kedua, saya berharap kita semua mampu secara sadar dan ikut bertanggung jawab menjaga situasi Kamtibmas di Ibu Kota Jakarta bersama aparat keamanan dan semua pihak lainnya.
Ketiga, saya berharap penuh Hukum Adat Larvul Ngabal dengan Persaudaraan Ain Ni Ain menjadi urat nadi kehidupan persaudaraan di Kei, seharusnya dibangkitkan dan dihidupkan kembali sebagai kesadaran baru bagi generasi muda, dan sebagai arah penentu kemajuan peradaban masyarakat Kei. Pemerintah Daerah Maluku Tenggara harus ada perhatian serius merevitalisasi nilai-nilai adat untuk generasi muda.
Keempat, saya berharap, semua pihak yang ada di Jakarta dan di “Tanat Evav Kilkilun” menahan diri dan menyerahkan seluruh hidup kita kepada Allah SWT, karena Dia yang berkuasa atas hidup dan mati kita. Tabe Fangnanan Fo Imbesa”. Ketua Umum DPP FPMM Umar Kei. (RN)

0 Comments