Ticker

7/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pasang Iklan? Hubungi 085344204480


Diskusi Pancasila di UGM Berujung Ricuh, Mahasiswa Protes Kehadiran Tiga Pejabat Pemerintah

JAKARTA – Diskusi bertajuk "Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia" yang digelar di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Senin malam (15/6/2026), berakhir ricuh setelah puluhan mahasiswa melakukan aksi protes terhadap kehadiran tiga pejabat pemerintah yang menjadi narasumber.

Ketiga pejabat tersebut yakni Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) RI Budiman Sudjatmiko.

Mahasiswa yang tergabung dalam aksi tersebut menilai para pejabat tidak layak berbicara mengenai Pancasila di tengah kondisi bangsa yang, menurut mereka, semakin menjauh dari nilai-nilai yang diperjuangkan rakyat.

Pada awal kegiatan, diskusi berlangsung normal dengan masing-masing narasumber mendapat kesempatan memaparkan materi di hadapan peserta. Namun, suasana mulai memanas ketika Budiman Sudjatmiko menyampaikan paparannya.

Dalam kesempatan itu, Budiman sempat menantang mahasiswa untuk menyampaikan kritik secara langsung melalui forum resmi, ketimbang hanya menyuarakannya melalui media sosial.

Situasi kemudian berubah ketika puluhan mahasiswa secara tiba-tiba naik ke atas panggung sambil membentangkan sejumlah spanduk bernada protes. Di antaranya bertuliskan "UGM Menolak Pengkhianat Reformasi" dan "UGM Menolak Penjilat Rezim".

Aksi tersebut membuat jalannya diskusi terhenti dan suasana di dalam ruangan menjadi tidak kondusif.

“Saya mau kok berdiskusi dengan mahasiswa, tetapi tadi sayangnya kondisinya sudah tidak kondusif,” kata Budiman dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan.

Menurut Budiman, dirinya sebenarnya masih ingin berdialog dengan massa aksi yang mendatangi panggung. Namun, pertimbangan keamanan membuat kegiatan tidak dapat dilanjutkan.

“Petugas keamanan mengkhawatirkan kondisi yang semakin tidak kondusif apabila saat itu kami masih berada di dalam gedung. Saya sendiri sebenarnya tidak keberatan untuk tetap menemui mahasiswa di dalam gedung,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Serikat Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Bintang Mesa, menegaskan bahwa para pejabat tersebut tidak layak membicarakan Pancasila apabila kritik rakyat masih dianggap sebagai gangguan.

“Mereka tidak layak membicarakan Pancasila selagi Indonesia masih membungkam suara rakyat, selama mereka menganggap kritik sebagai gangguan, selama mereka masih membuang-buang uang rakyat dengan program yang dinilai tidak bermanfaat, seperti MBG, Kopdes Merah Putih, dan berbagai persoalan ekonomi yang terjadi saat ini,” ujar Mesa.

Di sisi lain, Menteri ATR/Kepala BPN Nusron Wahid menegaskan dirinya terbuka terhadap berbagai masukan yang disampaikan mahasiswa dan siap melakukan verifikasi terhadap persoalan yang diangkat dalam diskusi.

Senada dengan itu, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono membantah anggapan bahwa dirinya bersama Nusron Wahid menghindari dialog dengan mahasiswa.

“Kalau ada yang mengatakan Sudaryono dan Nusron kabur, itu tidak tepat. Justru kami datang untuk berdiskusi. Bahkan saat mobil kami dicegat dan kami dicari-cari, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog,” kata Sudaryono.

Peristiwa tersebut menjadi sorotan publik dan mencerminkan dinamika hubungan antara pemerintah dan kalangan mahasiswa dalam menyikapi berbagai persoalan kebangsaan yang berkembang saat ini. (W)

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments