Ticker

7/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pasang Iklan? Hubungi 085344204480


Yotowawa, Jejak Bahasa Meher dalam Puisi: Aldy Dahoklory Dokumentasikan Warisan Kisar Lewat Antologi Dwibahasa

KISAR, MALUKU BARAT DAYA – Di tengah derasnya arus globalisasi yang perlahan menggerus keberadaan bahasa-bahasa daerah, seorang pemuda asal Pulau Kisar memilih menempuh jalan sunyi untuk menjaga warisan leluhurnya. Adalah Aldy Dahoklory (23), putra Yawuru, Kisar Selatan, yang berhasil menyelesaikan draf antologi puisi dwibahasa berjudul Yotowawa, sebuah karya sastra yang memuat sekitar delapan puluh puisi dalam bahasa Meher dan bahasa Indonesia.

Lebih dari sekadar kumpulan puisi, Yotowawa hadir sebagai upaya dokumentasi budaya dan pelestarian bahasa ibu yang jumlah penuturnya semakin terbatas di Kepulauan Maluku Barat Daya. Melalui karya ini, Aldy berusaha memastikan bahwa bahasa Meher tidak hanya hidup dalam percakapan sehari-hari, tetapi juga memperoleh ruang yang layak dalam khazanah sastra Indonesia.

Aldy Dahoklory lahir di Yawuru, Kisar Selatan, Kabupaten Maluku Barat Daya, pada 16 Oktober 2002. Saat ini ia tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pattimura, Ambon.

Perjalanan kepenulisannya dimulai ketika bergabung dengan Sanggar Cakadidi. Sejak itu, ia aktif mengikuti berbagai kegiatan sastra dan budaya. Namanya pernah tampil dalam Gelar Sastra di Taman Budaya Maluku pada tahun 2023 dan 2024, serta Festival Puisi Modern Bahasa Tanah Maluku bersama grup jazz internasional Boi Akih pada tahun 2024. Pada tahun 2025, ia turut berkontribusi dalam penerbitan Antologi Dwibahasa Seri Ke-5 yang diterbitkan oleh Taman Inspirasi Sastra Indonesia.

Selain berkecimpung dalam dunia sastra, Aldy juga aktif dalam organisasi kepemudaan dan pernah menjabat sebagai Sekretaris II Studio Global di Yotowawa Media Center, sebuah pusat kebudayaan dan media yang berfokus pada pengembangan kawasan Maluku Barat Daya.

Salah satu keistimewaan utama antologi Yotowawa terletak pada format penyajiannya. Setiap puisi ditampilkan dalam dua kolom sejajar, dengan bahasa Meher di sisi kiri dan bahasa Indonesia di sisi kanan. Kedua bahasa mendapat porsi tipografis yang sama sehingga tidak ada yang diposisikan lebih dominan.

Format ini berbeda dari kebanyakan penerbitan dwibahasa di Indonesia yang umumnya menempatkan terjemahan pada halaman berbeda atau sebagai catatan kaki. Dalam Yotowawa, pembaca dapat menyaksikan kedua bahasa hadir berdampingan dalam satu bidang pandang, menciptakan pengalaman membaca yang unik dan setara.

Menurut Aldy, teks bahasa Indonesia yang disajikan bukanlah terjemahan harfiah, melainkan tafsir puitis yang berusaha mempertahankan jiwa dan rasa dari puisi aslinya. Dengan demikian, kedua bahasa memiliki ruang ekspresi yang sama kuat tanpa saling menghilangkan karakter masing-masing.

Secara tematik, Yotowawa juga menawarkan sesuatu yang berbeda. Sebagian besar puisi dalam antologi ini tidak berangkat dari pengalaman personal penyair, melainkan menjadi ruang dokumentasi berbagai pengetahuan kolektif masyarakat Pulau Kisar.

Di dalamnya terekam aturan adat, tata krama sosial, sistem kekerabatan matrilineal, kearifan ekologis, kosmologi, sistem kepercayaan, hingga filosofi pewarisan nilai budaya yang selama ini diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.

Melalui puisi-puisi tersebut, pembaca dapat menemukan berbagai petunjuk mengenai kehidupan masyarakat Kisar, mulai dari tata cara bertamu, etika menyapa berdasarkan garis keturunan, hingga norma-norma sosial yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat setempat.

Pengetahuan ekologis masyarakat Kisar juga mendapat tempat penting dalam antologi ini. Berbagai puisi merekam hubungan erat manusia dengan alam, termasuk pengetahuan tentang musim tanam, siklus cuaca, serta berbagai larangan adat yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup.

Sementara itu, pada ranah kosmologi, puisi-puisi Aldy mengisahkan hubungan antara manusia dengan leluhur, konsep kehidupan dan kematian, serta pembagian ruang sakral dan profan yang menjadi bagian penting dari pandangan hidup masyarakat Kisar.

Secara estetis, Yotowawa memperlihatkan karakter yang kuat sebagai karya yang lahir dari pertemuan tradisi lisan dan tradisi tulis. Pengulangan kata dan frasa menjadi unsur dominan yang menciptakan ritme khas layaknya mantra atau petuah adat yang biasa dilantunkan secara turun-temurun.

Paralelisme atau kesejajaran struktur kalimat juga tampak menonjol, menghadirkan irama yang mengingatkan pada bentuk-bentuk puisi tradisional Nusantara. Selain itu, sejumlah istilah penting seperti daisuli, pa'a, inai, dan honoli sengaja dipertahankan dalam bahasa aslinya tanpa diterjemahkan karena mengandung konsep budaya yang sulit dicari padanannya dalam bahasa Indonesia.

Imaji-imaji yang muncul dalam puisi pun sangat lekat dengan kehidupan masyarakat Kisar. Batu, jagung, pohon koli, tenun, tifa, sopi, pinang, dan sirih berulang kali hadir sebagai metafora yang membangun makna secara mendalam.

Tema keseimbangan juga menjadi benang merah dalam banyak puisi. Aldy menggambarkan dunia sebagai kesatuan berbagai pasangan yang saling melengkapi, seperti timur dan barat, hujan dan kemarau, laki-laki dan perempuan, hidup dan mati, hingga Meher dan Woirata. Dalam puisinya, perbedaan bukanlah pertentangan, melainkan harmoni yang membentuk kehidupan.

Keunikan lain dari Yotowawa adalah penggunaan bahasa Meher, salah satu bahasa daerah di Maluku yang jumlah penuturnya relatif terbatas dan belum banyak terdokumentasi. Berbeda dengan sebagian besar karya sastra dwibahasa yang menggunakan bahasa daerah besar seperti Jawa, Sunda, atau Bali, antologi ini memberi ruang bagi bahasa yang berada dalam kategori rentan.

Yang lebih menarik, upaya dokumentasi ini dilakukan oleh generasi muda. Aldy adalah penutur asli bahasa Meher yang tumbuh di era digital, sehingga karya ini menjadi bukti bahwa pelestarian bahasa daerah tidak hanya menjadi tanggung jawab akademisi atau generasi tua, tetapi juga dapat digerakkan oleh kaum muda.

Selain berfungsi sebagai karya seni, antologi Yotowawa juga memiliki nilai penting sebagai dokumen etnografis dan bahan pembelajaran budaya. Banyak puisi di dalamnya dapat dimanfaatkan sebagai media pendidikan karakter berbasis kearifan lokal serta sumber pengetahuan mengenai identitas masyarakat Kisar.

Bahasa Meher sendiri menghadapi berbagai tantangan serius, mulai dari jumlah penutur yang terbatas, migrasi generasi muda ke kota-kota besar, hingga belum masuknya bahasa tersebut ke dalam sistem pendidikan formal. Dalam konteks itulah, Yotowawa menjadi langkah konkret untuk menciptakan arsip tertulis yang dapat bertahan melampaui ruang dan waktu.

Pendekatan serupa telah dilakukan oleh berbagai komunitas adat di dunia, seperti masyarakat Maori di Selandia Baru, masyarakat Hawaii, hingga komunitas adat di Australia dan Kanada yang menggunakan sastra sebagai sarana revitalisasi bahasa.

Meski demikian, Aldy menyadari bahwa pelestarian bahasa tidak dapat bertumpu pada satu karya semata. Diperlukan dukungan kebijakan, pendidikan, dokumentasi berkelanjutan, serta keterlibatan aktif masyarakat penutur agar bahasa Meher tetap hidup di masa depan.

Karena itu, ia berharap antologi Yotowawa dapat segera diterbitkan dan menjangkau lebih banyak pembaca.

"Saya tidak butuh cetakan mewah atau distribusi raksasa. Saya hanya ingin buku ini ada. Untuk terus dipakai memahami Pulau Kisar lebih dalam," ujar Aldy.

Di tengah ancaman hilangnya banyak bahasa daerah di Indonesia, Yotowawa hadir sebagai pengingat bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan rumah bagi ingatan, identitas, dan pengetahuan sebuah masyarakat. Melalui puisi, Aldy Dahoklory sedang menyalakan satu cahaya kecil agar bahasa Meher tetap hidup dan terus diwariskan kepada generasi yang akan datang. (KT/04) 

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments