NAMROLE – Untuk pertama kalinya sejak Kabupaten Buru Selatan (Bursel) berdiri, Lapangan Alun-Alun Kota Namrole disulap menjadi bumi perkemahan. Ribuan pelajar dari berbagai wilayah di Buru Selatan berkumpul di tempat tersebut untuk mengikuti Perkemahan Pendidikan dan Penguatan Karakter Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Buru Selatan Tahun 2026.
Pembukaan kegiatan yang berlangsung Selasa (11/8/2026) itu menjadi momentum bersejarah dalam perjalanan pembinaan generasi muda di Buru Selatan. Perkemahan yang berlangsung hingga 15 Agustus 2026 tersebut mengusung tema “Belajar, Berkarya, Memimpin Menuju Generasi Emas Buru Selatan 2045.”
Wakil Bupati Buru Selatan, Gerson Eliaser Selsily, saat membuka kegiatan menegaskan bahwa perkemahan tersebut bukan sekadar kegiatan berkemah di alam terbuka. Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan bagian dari investasi jangka panjang dalam membentuk karakter generasi muda yang kelak menjadi penentu arah pembangunan daerah.
Menurut Selsily, penggunaan Alun-Alun Kota Namrole sebagai bumi perkemahan menjadi sebuah terobosan baru dalam pembinaan generasi muda.
“Mungkin ini merupakan sejarah awal bahwa kita bisa membangun kemah di alun-alun ini. Sejak kabupaten ini berdiri, baru kali ini kita melakukan sebuah terobosan baru dalam pembinaan generasi muda dan pembinaan karakter anak-anak kita,” ujar Selsily.
Ia menegaskan, kecerdasan akademik saja tidak cukup untuk melahirkan generasi yang mampu menghadapi tantangan masa depan. Pengetahuan harus berjalan beriringan dengan karakter, mental yang kuat, integritas, kedisiplinan dan kemampuan bekerja sama.
“Bicara knowledge saja tidak cukup. Kepintaran saja tidak cukup. Pendidikan karakter juga sangat penting dan strategis,” tegasnya.
Di hadapan ribuan peserta, Selsily bahkan melihat para pelajar yang mengikuti perkemahan sebagai representasi masa depan Buru Selatan.
“Di hadapan saya hari ini adalah calon-calon pemimpin yang akan membawa kemajuan daerah ini 10 hingga 20 tahun yang akan datang,” katanya.
Tiga Bekal Menuju Generasi Emas
Selsily kemudian menitipkan tiga pesan penting kepada seluruh peserta yang dinilainya harus menjadi bekal dalam perjalanan mereka menuju masa depan.
Pertama, kemandirian dan ketangguhan.
Ia meminta peserta meninggalkan sejenak kenyamanan rumah dan ketergantungan terhadap gawai. Menurutnya, kehidupan di alam terbuka merupakan ruang belajar yang efektif untuk melatih kemampuan mengelola diri, menghadapi keterbatasan serta membangun ketangguhan fisik dan mental.
“Belajarlah mengelola diri sendiri dan tangguh menghadapi tantangan cuaca serta kondisi fisik di alam terbuka,” pesannya.
Kedua, gotong royong dan persaudaraan.
Selsily mengingatkan agar tidak ada sekat di antara peserta berdasarkan asal sekolah, kecamatan maupun latar belakang.
“Di sini tidak ada sekat asal sekolah, kecamatan atau latar belakang. Semua bersaudara dalam satu tenda dan satu tekad. Hilangkan ego pribadi demi keberhasilan bersama,” katanya.
Menurutnya, semangat tersebut sejalan dengan filosofi Kai Wait, yang menjadi salah satu nilai penting dalam kehidupan masyarakat Buru Selatan.
Kai Wait, kata Selsily, harus terus dirawat sebagai perekat persaudaraan masyarakat di tengah derasnya globalisasi dan perkembangan teknologi informasi.
Ia juga mengingatkan para peserta agar kebebasan berekspresi di media sosial tetap dibarengi etika, kesantunan dan kecerdasan dalam berkomunikasi.
Ketiga, integritas dan kedisiplinan.
Selsily meminta peserta membangun kebiasaan jujur, menaati aturan, menghargai waktu dan bertanggung jawab terhadap setiap tugas.
“Jadilah pribadi yang jujur pada diri sendiri, taat pada aturan perkemahan dan menghargai waktu. Karakter inilah yang akan membuat kalian dihormati di mana pun kalian berada,” ujarnya.
Pramuka Harus Menjadi Teladan Menjaga Lingkungan
Selain penguatan karakter, Selsily memberikan perhatian khusus terhadap kepedulian lingkungan.
Ia meminta seluruh peserta menjaga kebersihan bumi perkemahan dan tidak meninggalkan sampah setelah kegiatan berakhir.
“Jangan tinggalkan sampah apa pun di tanah ini. Pramuka Buru Selatan harus menjadi contoh terdepan dalam mencintai dan merawat lingkungan daerah ini,” pesannya.
Kepada camat, kepala sekolah, pembina, pendamping dan panitia, Selsily menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
Ia meminta seluruh pihak menjadikan keselamatan, kesehatan dan pembinaan peserta sebagai prioritas utama.
“Saya percayakan sungguh keselamatan dan pembinaan terhadap anak-anak kita di tangan ibu, bapak dan saudara sekalian. Berikan dedikasi terbaik. Bimbing mereka dengan metode yang edukatif, humanis dan penuh kasih sayang,” ujarnya.
116 Sekolah Daftar, 79 Hadir
Ketua Panitia Perkemahan Pendidikan dan Penguatan Karakter Buru Selatan 2026, Ruslan Kharie, dalam laporannya menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan langkah strategis Kwarcab Gerakan Pramuka Buru Selatan dalam memperkuat karakter, mental, nasionalisme dan kecintaan generasi muda terhadap daerah.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi alternatif pembinaan setelah keterbatasan anggaran menyebabkan peserta dari Buru Selatan tidak dapat mengikuti Jambore Nasional di Cibubur, Jakarta.
Pelaksanaan perkemahan kemudian dirancang melalui koordinasi Kwarcab Buru Selatan bersama Pemerintah Kabupaten Buru Selatan, Dinas Pendidikan serta Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku.
Ruslan menyebut 116 sekolah atau gugus depan telah mendaftarkan diri. Jumlah tersebut terdiri dari 61 sekolah tingkat SD/Siaga, 41 sekolah tingkat SMP/Penggalang dan 14 sekolah tingkat SMA/Penegak.
Dari jumlah tersebut, 79 sekolah hadir dalam pelaksanaan perkemahan, masing-masing 33 sekolah Siaga, 33 sekolah Penggalang dan 13 sekolah Penegak.
Sementara jumlah peserta mencapai 1.301 orang, terdiri dari 557 peserta Siaga, 537 peserta Penggalang dan 207 peserta Penegak.
Selain peserta, terdapat sekitar 237 pembina, pendamping dan kepala sekolah yang turut mendukung kegiatan.
Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena rombongan peserta dari Kecamatan Kepala Madan masih dalam perjalanan menuju lokasi perkemahan.
Selama lima hari pelaksanaan, peserta akan mengikuti berbagai kegiatan edukatif dan pembinaan yang diarahkan untuk memperkuat karakter, kedisiplinan, kebersamaan, nasionalisme serta kecintaan terhadap lingkungan.
Berbagai agenda disiapkan, mulai dari perlombaan, bela negara, pengenalan kearifan lokal, festival seni hingga api unggun.
Dari Tenda-Tenda Pramuka untuk Masa Depan Bursel
Selsily berharap perkemahan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ia mendorong agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai ruang pembentukan karakter sekaligus memperkuat kapasitas dan persaudaraan generasi muda dari seluruh wilayah Buru Selatan.
“Ke depan kita akan terus melakukan kegiatan yang sama. Yang penting adalah penguatan kapasitas, penguatan karakter dan yang lebih penting adalah saling mengenal serta saling bersilaturahmi,” katanya.
Ia menyebut Waesama, Ambalau, Namrole, Leksula, Fenampapan hingga Kepala Madan sebagai bagian dari satu keluarga besar Buru Selatan.
“Kita semua adalah keluarga. Bumi Fuka Bupolo,” tegasnya.
Dari Alun-Alun Kota Namrole, ribuan peserta kini tidak hanya mendirikan tenda. Mereka sedang membangun sebuah proses panjang untuk mengenal arti disiplin, persaudaraan, tanggung jawab, kepemimpinan dan kepedulian terhadap daerah.
Sebab, dari generasi yang ditempa hari ini, akan lahir pemimpin-pemimpin Buru Selatan di masa depan.
“Jadilah generasi kebanggaan keluarga, kebanggaan sekolah dan jadilah pilar tangguh yang siap memajukan Kabupaten Buru Selatan di masa depan,” pungkas Selsily. (KT/03)


0 Comments