Oleh :
Kaimudin
Laitupa
Penulis
Muda
Pascareformasi
1998 ada kesadaran baru pada segenap anak bangsa.tatanan yang cepat
berubah,membutuhkan kreatifitas dan inovasi pada visi pembangunan kepemudaan, pemuda
yang dahulunya memiliki kreatifitas terbatas, mulai menikmati krand demokrasi
dan kebebasan sipil, mereka menjadi dalam fase sejarah yang menentukkan.
Tidak ada
gelanggang yang sunyi dari partisipasi pemuda,entah itu dengan cara menjadi
aktor atau figuran. Bahkan karena terbukanya ruang kompetisi, regenerasi
berjalan lebih cepat.pemuda bukan lagi orang-orang antri, namun mereka ikut
berlomba mencari momentum. Mereka ini yang kita sebut aktor.
Sedangkan yang
lain memilih jalan ekstraparlementer. Mereka bersentuhan dengan kekuasaan, namun
dengan menggunakan kritik dan gerakan people power. Fenomena gerakan pemuda
seperti ini, lazim disepanjang sejarah dan waktu, namun pada masa tertentu, terutama
di era orde baru dan rezim otoritarianisme lainnya, pemuda pemuda dikontrol
dengan tertib politik dengan konsesi ekonomi, pemuda yang potensial dan kritis
dikaryakan oleh rezim berkuasa.
Sebagai pemuda
yang mengalami masa masa transisi kekuasaan, pemuda Maluku termasuk yang paling
lengkap cara belajarnya. Olehnya pandangan penulis bahwa ada dua momentum besar
yang menghampiri proses belajar, pertama konflik social dan yang kedua transisi
social-politik yang terjadi secara nasional. Dua fenomena ini yang membuat
pengalaman pemuda Maluku sedikit.
Berbeda dengan
banyak pemuda lainnya,karena spirit perubahan justru menjangkau sentiment
budaya, keadilan politik nasional dan penegasan local wisdom. Belum selesai
pertanyaan prinsip dalam menyelesaikan konflik social, perubahan situasi
politik juga cepat berubah.
Pilkada langsung
kepala daerah, perombakan sistem politik, hingga tingginya mobilisasi social, menjadi
kenyataan yang sulit dihindar. Pada sisi lain, problem-problem kemanusiaan
mengalami titik tertinggih dan terbuka dalam sejarah modern di Maluku, melalui
relokasi pengungsi, fenomena eksodus dan pelanggaran hak asasi manusia.
Tidak heran
negeri menjadi perhatian banyak Negara. Banyak peniliti juga mencernati perkembangan
konflik dan perubahan sosial di Maluku. Dalam keadanaan seperti ini, pemuda dan
masyarakat Maluku adalah pelaku sejarah, mereka semua mengalami situasi
kejiwaan dan pengalaman sosial yang khas, mulai dari konsep orang basudara, konflik
sosial, kemudian penegasan identitas kolektif pada dimensi dimensi sosial
politik.
Penulis menilai
ada dua elemen penting yang mendasari visi perjuangan dan visi pembangunan
pemuda Maluku. Dalam konstelasi visi perjuangan, yang digugat oleh pemuda Maluku
adalah ketidakadilan politik dengan merekonstruksi ulang sejarah NKRI, pemuda
Maluku mendesak keterwakilan putra Maluku dalam kabinet Indonesia bersatu jilid
I dan II. Bahkan pada aspek keadilan territorial, pemuda Maluku menjadi motor
penggerak kaukus KNPI Provinsi Kepulauan, dengan menggandeng KNPI daerah lain.
Sedangkan dalam
visi pembangunan, pemuda Maluku semakin sadar akan arti kerukunan. Pemuda semakin
tahu bahwa kesatuan gagasan pada semua aspek. Penyatuan konsep pembangunan yang
utuh dan menyeluruh dibutuhkan untuk mendorong penyelesaian masalah-masalah
pembangunan yang kompleks yang dihadapi daerah ini.
Dengan
terlaksananya peletakan Gong Perdamaian Dunia dan pertemuan pemuda dunia di Kota
Ambon, menunjukan lewat konflik yang pernah terjadi di daerah ini semua bangsa
bisa belajar dari Maluku.
Dahulu bangsa-bangsa
datang,karena harum buah pala dan cengki. Namun kesadaran sejarah itu, masih membutuhkan
jiwa pemuda yang tangguh, cerdas dan memiliki kebudayaan yang kuat.
Refleksi
Kohesifitas Masa Depannya seorang
futurulog mengatakan orang orang visioner telah menyelesaikan masa depannya, baru
dia bertindak dihari ini. Ini menunjukan kekuatan visi melebihi waktu dan
ruang. Visi yang besar membutuhkan rencana yang konsisten dan kesengguhan
melewati rintangan dan hambatan.
Bagian dari
judul ini; Situasi Empirik Peran Pemuda Maluku Dan Kohesifitas Masa Depannya
memperjelas spirit perjuangan pemuda dan masyarakat Maluku.pemuda sebagai
penerus pembangunan membutuhkan karya karya monumental untuk menghubungkan
semangat dan cerita sejarah dari generasi masa kini kepada generasi masa depan.
Sekali lagi, sejarah tidak berhenti pada satu generasi.
Salah satu kemampuan
untuk berlayar dalam ombak sejarah adalah dengan memperteguh persatuan dan
komitmen pemuda sebagai orang basudara. Kerukunan hidup yang ada pada pemuda
dan masyarakat Maluku merupakan simpul pemersatu gagasan, cita-cita dan spirit
kebudayaan. Kerukunan hidup itu terbingkai dalam ungkapan-ungkapan bermakna
seperti sagu salempeng dipatah dua dan potong dikuku rasa di daging.
Kohesifitas masa
depannya pemuda Maluku adalah kerja bersama dan energy bersama dan membutuhkan
kehendak bersama dan cita-cita bersama dan membutuhkan mimpi mimpi besar untuk
membangun peradaban dan kemanusiaan dari beban sejarah masa lalu.
Tugas-tugas
pembangunan berkelanjutan membutuhkn rencana dan visi yang jelas. Pada bidang
politik, butuh strategi yang lebih cerdas dan bermartabat. Pembangunan sumber
daya manusia yang berkualitas salah satu cara jangka panjang untuk menjawab
minimnya keterwakilan putra Maluku di kabinet. Selain itu, kemampuan membangun
jejaring dan akses juga penting.
Pada aspek
ekonomi kita membutuhkan pemetaan sumber daya alam, dengan kemampuan membangun
jaringan bisnis mendunia, sumber daya alam, bagaimana harus dikelola secara
mandiri. Dengan Sumber daya manusia dan teknologi yang handal yang akan kita
miliki kedepan.
Penulis
mempertegas pemuda Maluku harus patahkan sentimen kelompok dan agama dan
sentiment local yang terus membangun stigma wilaya juga harus segera diakhiri, pemuda
harus mengambil peran visioner karena pemuda adalah penerus tongkat estafet dan
pelanjut masa depan.olehnya itu semakin banyak kesempatan dan peluang bagi
pemuda untuk mengambil peran, semakin penting mempertanyakan orientasi visioner
pemuda dalam pembangunan dan tugas tugas sosialnya.
Pemuda sekarang
lebih muda tampil, berkompetisi dan mengambil peran, ini menunjukan orientasi
visioner peran pemuda sudah harus menjadi diskursus penting, agar pemuda lebih
siap menerima tanggung jawab sejarah.
Pemuda sebagai
tongkat estafet pemuda dituntut memiliki keunggulan-keunggulan komparatif
olehnya itu sebelum penulis mengakhiri tulisan ini penulis mengingatkan kepada
semua pemuda Maluku bahwa ada beberapa aspek yang menjadi investasi pemuda yang
pertama, pemuda harus cerdas intelektual dan mandiri dalam menentukan pilihan
hidup.pemuda yang memiliki karakter seperti ini, bukan saja bisa mengambil
keputusan, namun juga mampu memperkirakan keadaan keadaan mendatang, dengan
kata lain pemuda tersebut memiliki konsep dan komitmen.
Kedua, pemuda
harus memahami realitas masyarakatnya secara kompleks, baik realitas sosial
politik dan realitas sosio-kultural. Pemuda seperti ini mampu menjaga keseimbangan
tradisi dan perubahan sosial. Dalam situasi yang cepat berubah, kita semakin
perlu membutuhkan pemuda sadar akar sejarah kebudayaan dan mengedepankan local
wisdom.
Ketiga, pemuda
harus mampu mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan teknologi. Dengan teknologi
yang semakin canggih, semua control terhadap pekerjaan semakin mudah dan
ringkas. Teknologi memperkuat fungsi fungsi birokrasi dan komunikasi, namun
tidak mampu menggantikan ritus-ritus dan tradisi karena itu penggunaan
teknologi harus dilakukan secara seimbang, agar tidak merusak local wisdom.
Dengan keunggulan
komparatif pemuda lebih siap menatap masa depan. Kondisi global dengan
penetrasi pasar dan pengaruh teknologi ikut turut mempengaruhi visi pemuda.
Pemuda harus
siap berfikir global namun bertindak local maksudnya pemuda harus menyesuaikan
diri dengan pengaruh perubahan globalisasi namun tidak meninggalkan identitas
dan tradisi kebudayaan. (*)

0 Comments