NAMROLE – Perjalanan panjang penuh tantangan menembus jalur pegunungan Pulau Buru akhirnya bermuara pada sukacita besar bagi umat di Nafrua. Jemaat GPM Nafrua resmi dimekarkan dan dilembagakan dalam rangkaian ibadah yang berlangsung pada Sabtu-Minggu, 25-26 April 2026.
Rombongan pelayanan bertolak dari Namrole pada Sabtu, 25 April 2026 pukul 10.30 WIT menuju Nafrua dan tiba sekitar pukul 13.20 WIT setelah menempuh jalan berdebu, medan terjal, serta menyeberangi sungai yang menghadang.
Di sepanjang perjalanan, hamparan pohon minyak kayu putih dan suasana alam pegunungan menjadi saksi perjuangan rombongan menuju wilayah pedalaman tersebut.
Setibanya di Nafrua, rombongan disambut meriah oleh umat dengan tabuhan tifa dan tarian adat Buru. Suasana penuh sukacita semakin terasa saat tradisi Ifutin dikenakan kepada Wakil Ketua I MPH Sinode GPM Pendeta Riko Rikumahu, Ketua Klasis GPM Buru Selatan Pendeta Wendhel F. Lesbassa, serta Sekretaris Klasis Pendeta Sammy M. Redjo.
Rangkaian pelayanan berlanjut pada Minggu, 26 April 2026 melalui ibadah pemekaran di Gereja Petra Jemaat GPM Batu Karang yang dipimpin Pendeta Glen Huwae.
Dalam ibadah tersebut, MPH Sinode GPM menyerahkan akta pemekaran sebagai tanda dimulainya babak baru perjalanan pelayanan Jemaat GPM Nafrua.
Setelah itu, para pelayan dan umat berjalan bersama menuju Jemaat GPM Nafrua untuk mengikuti ibadah pelembagaan yang dipimpin Pendeta Riko Rikumahu.
Dalam khotbahnya, Rikumahu menegaskan bahwa gereja harus hadir secara nyata di tengah kehidupan umat.
“Gereja tidak hanya berdiri sebagai institusi, tetapi harus menghadirkan tindakan penyelamatan bagi umat di tengah pergumulan hidup,” tegasnya.
Pada kesempatan tersebut, Ketua Majelis Jemaat GPM Nafrua, Penginjil Jemris Latuwael, diteguhkan oleh Ketua Klasis GPM Buru Selatan Pendeta Wendhel F. Lesbassa.
Selanjutnya dilakukan penyerahan Jemaat GPM Nafrua dari Klasis GPM Buru Selatan kepada Klasis GPM Buru Utara yang diterima Ketua Klasis GPM Buru Utara Pendeta Herfin Yandres Siahaya.Pendeta Wendhel F. Lesbassa dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelembagaan Jemaat GPM Nafrua merupakan amanat Persidangan ke-39 Sinode GPM Tahun 2025.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada MPH Sinode GPM, para pendeta se-Klasis, tokoh adat, dan Jemaat GPM Batu Karang yang setia mendukung pelayanan sejak awal Pekabaran Injil tahun 2019.
Menurutnya, pelayanan di Nafrua diawali dengan baptisan 36 orang, kemudian berkembang dari Pos PI, menjadi Sektor PI, hingga kini resmi menjadi jemaat mandiri.
Sementara itu, Pendeta Riko Rikumahu mengingatkan agar pelayanan terus dijalankan dengan hati dan kedekatan bersama umat.“Ketua Majelis Jemaat yang baru diteguhkan harus hadir di tengah umat, mendengar mereka, dan melayani dengan hati,” ujarnya.
Pelembagaan Jemaat GPM Nafrua menjadi tonggak sejarah baru bagi pelayanan gereja di wilayah pegunungan Pulau Buru, sekaligus bukti bahwa iman dan kebersamaan mampu melahirkan pertumbuhan jemaat di tengah keterbatasan. (KT/06)



0 Comments