JAKARTA – Komitmen Pertamina Foundation dalam menghadirkan inovasi berbasis teknologi untuk mendukung pelestarian lingkungan kembali menuai pengakuan. Melalui platform PF-Lestari, sistem pemantauan keanekaragaman hayati berbasis artificial intelligence (AI), Pertamina Foundation berhasil meraih penghargaan Platinum pada ajang Annual Pertamina Quality Award (APQA) 2026 kategori PC-Prove.
Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa inovasi digital yang dikembangkan Pertamina Foundation mampu menjawab tantangan pengelolaan lingkungan di era modern, terutama dalam mewujudkan transparansi data, akurasi pelaporan, serta penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
President Director Pertamina Foundation, Agus Mashud S. Asngari, menjelaskan PF-Lestari hadir sebagai solusi atas berbagai kendala dalam pengelolaan data keanekaragaman hayati yang selama ini masih tersebar, belum terintegrasi, dan sulit dipantau secara berkala.
"Melalui PF-Lestari, kami mengintegrasikan proses pemantauan, analisis, hingga pelaporan dalam satu sistem yang lebih efisien dan akurat. Saat ini platform tersebut telah diterapkan di berbagai lokasi Program Hutan Lestari yang dikelola Pertamina Foundation untuk mendukung rehabilitasi lahan kritis di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK)," ujar Agus.
PF-Lestari memanfaatkan teknologi AI yang dipadukan dengan analisis spasial sehingga mampu mengukur indeks kesehatan vegetasi, mendeteksi perubahan tutupan lahan, hingga melakukan estimasi jumlah pohon (tree count) secara cepat dan akurat.
Selain itu, platform ini dilengkapi fitur pemetaan presisi yang memungkinkan pengguna memantau kondisi tutupan lahan dan topografi secara komprehensif. Sistem tersebut juga mendukung inventarisasi digital berbagai jenis tanaman, pencatatan riwayat pemeliharaan, hingga pemetaan awal potensi penyerapan karbon di kawasan rehabilitasi.
Tak hanya itu, PF-Lestari mendukung pendataan penanaman pohon endemik maupun multi-purpose tree species (MPTS), sekaligus memperkuat fungsi riset, konservasi, dan edukasi kehutanan.
Melalui dashboard terintegrasi, pengelolaan data lapangan menjadi lebih efisien, mulai dari pemantauan tingkat keberhasilan tumbuh tanaman (survival rate), estimasi cadangan karbon, hingga proses evaluasi program yang lebih terukur, transparan, dan akuntabel.
Menurut Agus, inovasi tersebut juga memberikan nilai ekonomi yang signifikan.
"PF-Lestari memiliki potensi menghasilkan value creation sebesar Rp2,19 miliar, yang didukung oleh peluang replikasi internal, ekspansi implementasi di lingkungan Pertamina Group, hingga komersialisasi kepada pihak eksternal," katanya.
Prestasi yang diraih dalam APQA 2026 menjadi pencapaian istimewa bagi Pertamina Foundation. Pasalnya, ini merupakan kali pertama lembaga tersebut mengikuti kompetisi inovasi kualitas terbesar di lingkungan PT Pertamina (Persero), namun langsung berhasil membawa pulang penghargaan tertinggi.
"Ini merupakan kali pertama Pertamina Foundation berpartisipasi dalam APQA dan langsung berhasil meraih predikat Platinum. Pencapaian ini membuktikan bahwa inovasi yang kami kembangkan telah memenuhi standar kualitas tinggi, sekaligus menjadi motivasi untuk terus menghadirkan inovasi yang mendukung program lingkungan yang lebih akuntabel dan berkelanjutan," tutur Agus.
Annual Pertamina Quality Award (APQA) sendiri merupakan ajang penghargaan tahunan yang diselenggarakan sejak 2010 sebagai bentuk apresiasi terhadap implementasi empat pilar manajemen kualitas di lingkungan PT Pertamina (Persero).
Melalui pengembangan PF-Lestari, Pertamina Foundation berharap upaya pelestarian lingkungan dapat semakin kuat, mulai dari tahap perencanaan, implementasi, hingga pelaporan berbasis data. Inovasi ini juga sejalan dengan visi Asta Cita dalam memperkuat ketahanan lingkungan serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, poin 14 tentang Ekosistem Laut, dan poin 15 tentang Ekosistem Daratan.
Versi ini menggunakan gaya berita yang lebih elegan, dengan alur yang kuat, lead yang menarik, serta penempatan kutipan dan data yang lebih proporsional sehingga terasa seperti naskah media nasional. (W)

0 Comments