Ticker

7/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pasang Iklan? Hubungi 085344204480


Warga Binaan Lapas Namlea Sukses Panen Ratusan Kilogram Tomat, Program Ketahanan Pangan Terus Digenjot

NAMLEA – Program pembinaan kemandirian di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Namlea kembali membuahkan hasil. Warga binaan berhasil mengubah lahan tidur menjadi lahan produktif dengan memanen ratusan kilogram tomat dari area pertanian yang dikelola di luar lingkungan lapas, Sabtu (11/7/2026).

Panen yang berlangsung di lahan seluas sekitar 1.200 meter persegi itu dipimpin langsung Kepala Lapas Kelas III Namlea, Muhammad M. Marasabessy, didampingi Kepala Subseksi Pembinaan, Sofian Ahmad, bersama jajaran petugas dan warga binaan yang terlibat dalam program pembinaan.

Marasabessy mengatakan panen kali ini merupakan panen kuartal III setelah tanaman tomat dibudidayakan selama kurang lebih dua bulan. Hasil panen perdana tersebut mencapai ratusan kilogram dan menjadi bukti keberhasilan program pembinaan kemandirian berbasis pertanian yang terus dikembangkan Lapas Namlea.

"Alhamdulillah, hasil panen kali ini sangat menggembirakan. Budidaya tomat mampu menghasilkan ratusan kilogram pada panen perdana. Ini merupakan buah dari kerja keras warga binaan yang mengikuti program pembinaan secara aktif dan penuh semangat," ujar Marasabessy.

Ia menjelaskan, selain tomat, Lapas Namlea juga tengah mengembangkan berbagai komoditas hortikultura lainnya, seperti buncis, cabai rawit, dan semangka. Pemanfaatan lahan yang cukup luas memungkinkan pengelolaan beberapa jenis tanaman secara bersamaan.

"Potensi lahan yang kami miliki sangat mendukung pengembangan pertanian. Karena itu, kami terus mengoptimalkannya untuk membudidayakan berbagai komoditas sebagai bagian dari upaya mendukung program ketahanan pangan nasional," katanya.

Dalam beberapa hari ke depan, Lapas Namlea juga dijadwalkan memanen tanaman buncis yang ditanam bersamaan dengan tomat. Hasil panen tersebut akan dipasarkan kepada pengepul sayuran serta dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan di lingkungan internal lapas.

Sementara itu, Kepala Subseksi Pembinaan, Sofian Ahmad, menjelaskan bahwa tidak semua warga binaan dapat mengikuti kegiatan pertanian di luar lapas. Mereka yang dilibatkan telah melalui proses seleksi dan memenuhi persyaratan sesuai ketentuan pembinaan.

"Yang bekerja di luar lapas merupakan warga binaan yang telah memenuhi syarat asimilasi dan telah melalui sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP). Selain itu, kami juga mempertimbangkan keterampilan dan pengalaman mereka di bidang pertanian agar kegiatan berjalan optimal," jelas Sofian.

Program pembinaan berbasis pertanian ini tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga menjadi sarana membekali warga binaan dengan keterampilan produktif yang dapat dimanfaatkan setelah kembali ke tengah masyarakat. (LO) 

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments