![]() |
| Hugo Ohoiledjaan, Ketua Rukun Antonius De Padua |
Ibadah akan dipimpin langsung oleh Vikaris Paroki Maria de Fatima Dobo, Roland Ignasius Renwarin, yang bertindak sebagai selebran utama. Kehadiran umat dari berbagai lingkungan rohani diperkirakan akan memadati jalannya perayaan yang menjadi salah satu momen penting dalam kalender gereja.
Rangkaian kegiatan diawali dengan perarakan daun palma yang dimulai dari Lingkungan Rohani Jakobus Grent MSC, tepatnya di Rukun Yohanes XXIII, kawasan Kopi-Kopi. Umat kemudian berjalan bersama menuju Gereja Stasi Santo Yoseph Dobo dengan jarak tempuh sekitar 500 meter. Prosesi ini melambangkan peristiwa masuknya Yesus ke Kota Yerusalem yang disambut dengan sorak-sorai umat.
Ketua Dewan Pastoral Stasi Santo Yoseph Dobo, Menase Boger, menjelaskan bahwa perayaan Minggu Palma menjadi puncak dari perjalanan iman umat selama masa Prapaskah.
“Sejak awal masa Prapaskah, kita telah mempersiapkan diri melalui usaha tobat dan aksi nyata. Hari ini, kita berkumpul bersama seluruh umat Allah untuk memperingati misteri Paskah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu sengsara dan kebangkitan-Nya. Untuk melaksanakan misteri itulah Yesus memasuki kota Yerusalem yang kita rayakan saat ini,” ujar Boger.
Yang menarik, perayaan tahun ini menghadirkan kekhasan tersendiri melalui sentuhan inkulturasi budaya lokal Aru. Liturgi tidak hanya dijalankan secara formal, tetapi juga diperkaya dengan unsur tradisi setempat, mulai dari lagu-lagu, tata busana, hingga ekspresi seni yang mencerminkan identitas masyarakat Aru.
Ketua Rukun Santo Antonius De Padua, Hugo Ohoiledjaan, yang kelompoknya bertugas sebagai penggerak koor, mengungkapkan bahwa penerapan inkulturasi tersebut merupakan bagian dari kebijakan pastoral paroki.
“Sesuai keputusan Pastor Paroki, telah ditetapkan bahwa pada minggu keempat setiap bulan, liturgi, lagu-lagu, hingga busana harus mengangkat ciri khas masyarakat Aru. Kebetulan jadwal tugas kami bertepatan dengan ketentuan tersebut, sehingga seluruh nuansa inkulturasinya menggunakan motif masyarakat adat Aru,” jelas Hugo.
Perpaduan antara tradisi gereja dan kearifan lokal ini menjadi simbol kuat bagaimana iman Katolik dapat tumbuh selaras dengan budaya setempat. Umat tidak hanya merayakan iman secara spiritual, tetapi juga meneguhkan identitas budaya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan beragama.
Dengan semangat kebersamaan dan kekayaan budaya yang dihadirkan, perayaan Minggu Palma di Kepulauan Aru diharapkan semakin memperdalam penghayatan iman umat sekaligus melestarikan warisan budaya leluhur. (YL)

0 Comments